Sentimen Dagang AS dan Tingkog Menjadi Ancaman Bagi Rupiah

Sentimen Dagang AS dan Tingkog Menjadi Ancaman Bagi Rupiah
Ilustrasi nilai tukar dollar AS terhadap rupiah. Foto by; Net

Gharba.com – Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) pada hari ini mulai menguat kembali. dimana sebelumnya, rupiah berada di angka 15.237, hari ini mulai menguat pada 15.213.

Hal itu terjadi dikarenakan adanya tekanan yang cukup dalam. sebagaimana dikutip dari Bloomberg, Rabu (10/10/2018), rupiah dibuka di angka 15.213 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 15.237 per dolar AS.

Bahkan sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 15.200 per dolar AS hingga 15.227 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 12,33 persen.

Berdasarkan Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 15.215 per dolar AS. Patokan pada hari ini menguat jika dibandingkan dengan patokan sehari sebelumnya yang ada di angka 15.233 per dolar AS.

“Diharapkan pergerakan rupiah terjaga ke depannya sehingga tidak membuat pelaku pasar keuangan di dalam negeri khawatir, mengingat sentimen eksternal cenderung masih bergejolak,” katanya dikutip dari Antara.

Ia menambhkan bahwa sentimen global yang menjadi pelaku pasar tidak lepas dari perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok, yang jika pada beberapa pecan ini, Tiongkog mengalami devisit yang cukup mengancam.

“Sentimen-sentimen itu membuat posisi dolar AS masih dapat kembali menguat terhadap mata aung rupiah,” katanya.

Disamping itu, sebagaimana dilansir Liputan6.com (10/10), sentimen dari Dana Moneter Internasional (IMF) lah yang menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2018 menjadi 3,7 persen.

Perkmebangan nilai tukar di lapangan memang terkadang sedikit mengancam terhadap stablitas nilai tukar rupiah terhadap dolar. seperti yang terjadi di Jakarta, Jumat (2/2). Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang berada di level Rp13.700 hingga Rp13.800.(Liputan6.com/Angga Yuniar)

Kejadian itu, rupanya menghawatirkan para penguasa. seperti yang dialami oleh pengusaha teknologi informasi yang merasa khawatir terhadap pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), yang kemudian berdampak pada sebagian bahan baku yang dipakai pada produk teknologi informasi (TI) masih impor.

“Memang sekarang naik (dolar) loncatnya di Rp 15 ribu lebih. Jadi memang biasanya sampai hari ini teman-teman gelisah yak,” kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (APTIKNAS), Soegiharto Santoso saat ditemui di Jakarta, Selasa (9/10/2018).

Ia menggangap, para pelaku industri masih menahan diri agar permintaan pasar tidak kabur. “Paling tidak berasa satu bulan atau dua bulan tergantung persediaan kita. Artinya tidak serta merta dolar AS naik kita ikut naik. seperti lalu kita ada penyesuaian juga. Atau dipaketin kalau naik diberikan insentif apa secara harga akan lebih mencapai sama. Itu hal-hal yang disiasatin. Namun, kalau naik terus mau tidak mau naik,” kata dia.

Untuk meredam penguatan mata uang negeri Paman Sam tersebut, sebaiknya tidak bergantung pada dolar AS. Transaksi pembelian, bisa disiasati dengan mengkonversikan mata uang asal negara tujuan importir tersebut, kata Soegiharto.

“Tapi tadi kita mencermatinya belanjanya dengan mata uang negaranya, misalkan ke China gunakan mata uang China dan ke Taiwan begitu juga. Itu akan kita coba jalanin,” ujar dia. (Min)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here