Sajak-Sajak M. Rifa; Suluk Sungai

Suluk Sungai
trixiepitts

SULUK SUNGAI

Sasmi, inilah sungai tempat ladang landai menghijau
Air mengalir dari hulu ke hilir, orang-orang berenang dalam kejernihannya
Mencecar nasib agar lebih berpihak kepada doa-doa yang didedah angin
Ketika musim tanam telah datang dan tiba meracik hibuk ke dalam lubuk

Oh! Burung telah nampak meninggi dan kepada basah tanah
Hijau daun merendah takjub.

Anak-anak tumbuh mengenal nama batu-batu yang terdiam di dasar,
Hari-hari pada hujan dan kemarau yang bangkit tenggelam. Atau tepian
Tempat aku merawat anak sungai agar nasib lebih ramping dan menguning,
Semacam padi-padi mencipta lumbung bagi jalan pulang ke rumah
Di mana dahulu musa terpuaskan oleh cahaya gemerlapan

Kini, wajahku bangkit bersama bulan sebtember yang dicemaskan
Orang-orang bersedekap harap bagai dalam sasakala sungai dahulu,
Ketika degub kuyup oleh prahara yang tiba ke hati yang lapang dan dalam

Tetapi tataplah hijau langit; gunung-gunung meninggi
Dan bebukitan yang tertancap bisu; tetap angkuh meneguhkan riwayat alir ke hulu.
Ladang-ladang huma akan terus membekas seperti semula dalam tubuh
Dan engkau akan hidup lebih lama daripada kenangku padamu

Nyanyian musim akan terus terdengar nyaring di telinga, lantaran
Tetumbuhan barangkali lebih hijau dari biasanya; khalwat air
Seperti babad adam dan hawa, di bawahnya ramah air mengalir
Dan kita kemudian terpuaskan oleh kersik daun di mana burung-burung hinggap,
Orang-orang berlalu lalang membawa riwayatnya masing-masing, setelah palawija
Kembali terbayang dalam angan dan masa depan sebagai pelipur

Sasmi, selebihnya panggil aku hulu sungai dan muara bagi anak-anak kita
Tempat engkau dan aku kelak melempar sauh ke tepian, sebagai keabadian.

Yogyakarta, 2016

M. Rifa seolah penyair. Kini banyak berdiam
sendirian menanti seorang kekasih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here