Sajak-Sajak Anwar Noeris

Sajak-Sajak Anwar Noeris
(Ilustrasi Foto By: Gharba.com/doc/net)

Arah ke Pantura

245 kilo meter udara asin Pantai Utara menyengat ingatan
Aku berjalan menyusuri bukit dan jalan beraspal
Pohon-pohon jati rindang seperti waktu yang tumbuh dengan teduh, mendamaikan usia dan bayang peluk yang tersisa
Aku masih ingat, kala dulu kau menuliskan namaku dan namamu sepanjang arah Pantura.
Kau bergelegar “mungkin hanya nama, tapi tak ada yang percuma”.

Setengah perjalanan samar-samar gerimis membasahi jendela ruko,
Lampu merah dan kelopak mataku. Aku masih ingat, kala itu kau di sampingku
Menghitung garis gerimis sambil mencubit lenganku dan berucap “tolol”.
Tidak! kau lucu, manisku, balasku. Lalu dari bibir merah sepotong senyum yang disembunyikan kesedihan bertahun-tahun
Bagai segerombolan kata yang memenuhi jantung puisiku

Meski sudah lama kau pergi dan menjadi denting musik yang kehilangan partiturnya
Tapi sebuah puisi yang tersaruk-saruk membawa kesepian
Sepanjang waktu dan ingatan terus mencarimu ke setiap lambang dan perumpaan

Sebab tak ada yang benar-benar pergi, hanya rasa cemas bagi jiwa yang ditinggalkan.
Sebab tak ada yang benar-benar hilang dalam kantung-kantung puisi
Namaku dan namamu tetap panjang serupa luas Karimunjawa, tetap tabah merawat rindu sepanjang usia.

Jawatengah, 2019

Kadilangu

Malam lembab oleh asin angin pantai
Waktu berjalan serupa kehilangan detaknya
Ketika pertemuan kita hanya melahirkan langit mendung
Dan gerimis tipis-tipis turun ke muka jendela
Menjadi rubaiat kesedihan yang sempurna

Besok pagi-pagi sekali kau harus pergi,
Aku pun harus bergegas menyelesaikan
Sisa usia yang tak ada dalam jadwal dan peta.
Sungguh tak ada bahasa salamat tinggal yang bisa kubisikkan ke telingamu
Apalagi bermanja-manja mencubit merah pipimu
Tapi sebuah potret senyummu yang menyimpan
Kesejukan Kadilangu sedikit mereda riuh rendah isi dadaku

Aku tulis puisi sebulum pagi memar oleh perpisahan
Sebelum langit robek oleh dendam air mata
Aku tulis puisi panjang tanpa jeda
Kubayangkan sebuah ciuman yang tertinggal di teras losmen
Kubayangkan alis tebalmu yang melengkung serupa Sungai Bogowonto
Kubayangkan seluruhmu yang nakal dan manja
Begitu manisnya kenangan kita, kekasih

Tak ada bahasa salamat tinggal yang bisa kubisikkan ke telingamu
Apalagi bermanja-manja mencubit merah pipimu
Hanya puisi ini yang mampu menampung kata-kata dan rahasianya:
Jika suatu hari nanti ada tukang pos membawa koran yang memuat puisi ini ke rumahmu
Terimalah dan simpan rapi-rapi sebagai kesedihanku.

Yogyakarta, 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here