Pentingnya Sinergi Dalam Mendidik Anak Bangsa

Pentingnya Sinergi Dalam Mendidik Anak Bangsa
(Ilustrasi foto: Gharba.com/doc.net)

Muhamad Kundarto
(Ketua Pusat Studi Lahan LPPM UPN “Veteran” Yogyakarta
Dewan Riset Daerah Kabupaten Kendal)

Jika terjadi kenakalan remaja seperti tawuran, geng motor, narkoba, miras, punk, pegaulan bebas, dll; ini tanggungjawab siapa?

Pihak sekolah? mereka hanya mampu menjalankan kurikulum 7 jam/hari, di luar itu dalam kendali orangtua dan lingkungan.

Pihak orangtua? mereka merasa sudah membayar sekolah untuk mendidik anaknya. Belum lagi mereka sibuk dengan pekerjaan, yang kadang harus merantau puluhan tahun lamanya.

Atau pihak lingkungan masyarakat? saat ini sudah sangat jarang ada tokoh masyarakat yang disegani di lingkungannya, masing-masing asyik sendiri dengan dunianya. Seolah-olah abai dengan perubahan yang terjadi di lingkungan sekitarnya.

Atau juga pihak polisi? mereka terbentur aturan hukum bahwa kenakalan di bawah umur harus dikembalikan ke orangtuanya. Meski ada pihak tentara? mereka disiapkan sebagai pasukan pertahanan negara untuk gangguan serangan dan stabilitas negara.

Atau kah dinas sosial? wah, yang ini biasanya untuk urusan orang terlantar, gelandangan, penduduk miskin, dan sejenisnya yang tidak siap dengan metode pendidikan dari dampak perubahan sosial.

Lantas siapa yang sebenarnya bertanggung jawab dalam hal itu?

Faktanya geng motor makin mewabah dengan senjata tajamnya. Anak-anak punk hidup ‘bebas’ tanpa induk semang. Narkoba makin ‘sukses’ dipasarkan, dan kejahatan berbasis kekerasan pun seringkali terjadi.

Memasuki zaman milenial–segala pusat kegiatan beralih fungsi pada elektronik dan serba instan–juga cenderung makin menjauhkan interaksi manusia dengan manusia lain secara langsung (tatap muka). Waktu banyak habis untuk sibuk sendiri dengan android. Termasuk para orangtua. Termasuk para guru. Termasuk para aparat. Dan tentu saja termasuk pada siswa-siswinya.

Mendidik anak bangsa dibutuhkan sinergi dari para pihak, tetapi tak hanya terhenti pada ajang DEKLARASI semata, yang berkumpul, pidato plus sambutan, lalu diliput media.

Pendidikan harus dilakukan dari waktu ke waktu, tanpa putus, tanpa henti, dan butuh kolaburasi semua pihak. caranya sederhana, buatlah grup-grup media sosial yang berisi gabungan para pihak ini, sehingga bisa sinergi dalam segala hal.

Orangtua menyiapkan anaknya dengan pendidikan welas asih dan suri tauladan yang baik sejak sore, malam sampai pagi sebelum anaknya sekolah. Pihak sekolah menjalankan kurikulum dengan selalu koordinasi dan menjalin komunikasi dengan orangtuanya. Usai sekolah, para siswa dalam pengawasan lingkungan, siapapun itu, dibutuhkan kepedulian pada pendidikan anak bangsa.

Ingat, sebelum mendidik, pahamilah bagaimana sosok anak muda itu, yang penuh energi, tak kenal lelah, suka banyak aktifitas dan berinteraksi dengan komunitasnya. Berikan saluran yang positif seperti olah raga, seni, dan kreatifitas. Jangan lupa dekatkan mereka pada pendidikan dan praktik agama, dibawah bimbingan para tokoh agama yang mampu memberi suri tauladan dan kebajikan semesta.

Karena pada intinya, wajah bangsa di masa depan tergantung pada kualitas pendidikan anak bangsa saat ini.

Yogyakarta, 10 Februari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here