Paham Radikal yang Melenceng dan Aksi Teror yang Mengancam Keamanan Negara

Paham Radikal yang Melenceng dan Aksi Teror yang Mengancam Keamanan Negara
Ilustrasi by; Doc.net

Oleh: Eka Irawan

Paham radikal dalam definisinya memiliki beragam makna, paham radikal adalah afeksi atau perasaan yang positif terhadap segala sesuatu yang bersifat ekstrim sampai ke akar-akarnya. Sikap yang radikal akan mendorong perilaku individu untuk membela secara mati-matian mengenai suatu kepercayaan, keyakinan, agama atau ideologi yang dianutnya (Sarlito Wirawan, 2012).

Dalam karakteristiknya, radikalisme erat dengan sikap intoleran, fanatik, eksklusif, serta revolusioner (Rodin, 2016: 34). Pandangan lain menyatakan bahwa radikalisme tidak selalu melibatkan kekerasan dan juga sikap anti-demokrasi dalam mencapai tujuan yang diinginkan (Schmid, 2013: 7).

Melihat definisi tadi dan berkaca pada sejarah, ternyata Indonesia sudah 2 kali melakukan perubahan dengan paham radikalisme yang positif, pertama pada tahun 1945 dalam upaya memerdekakan NKRI dan tahun 1998 pada saat orde baru dengan jargon yang lebih familiar di telinga “Reformasi”.  Namun aksi radikalisme yang terjadi sekarang lebih erat dengan aksi teror yang dikaitkan dengan agama Islam, kelompok radikal tersebut laiknya Jamaah Islamiyah tidak bisa dianggap sebagai kelompok radikalis biasa.

Jika berkaca pada awal pembentukannya, JI merupakan kelompok yang didirikan oleh mantan pejuang DI/TII yang sempat menginginkan mendirikan Negara Islam Indonesia. Sialnya, cita-cita tersebut masih dilanjutkan sampai sekarang oleh para penerusnya dan bahkan lebih terorganisir. Gerakan radikal tersebut muncul karena ketidakpuasan terhadap keterbatasan ruang politik, ekonomi, maupun sosial yang dirasa menindas dan perlu untuk dilawan bukan hanya diakibatkan oleh sekulerisme negara (Schmid, 2013: 2).

Sedangkan terorisme adalah perbuatan melawan hukum atau tindakan yang mengandung ancaman dengan kekerasan atau paksaan terhadap individu atau hak milik untuk memaksa atau mengintimidasi pemerintah atau masyarakat dengan tujuan politik, agama atau idiologi (US Department of Defense, 1990). Tidak jauh berbeda memang dengan paham radikalisme, yang membedakan hanya terletak pada kata “kekerasan” atau bisa kita pahami tindakan terorisme merupakan bentuk akhir dari paham radikalisme yang melenceng.

Aksi teror yang terjadi di Surabaya tanggal 13 Mei 2018 lalu, sebenarnya bukanlah hal yang baru. Aksi teror di Indonesia sudah terjadi sejak tahun 1981, aksi teror tersebut lebih dikenal dengan peristiwa Woyla, dikomandoi oleh Imran bin Muhammad Zein yang teridentifikasi sebagai anggota kelompok Islam Ekstremis “Komando Jihad”. Dalam aksinya, mereka melakukan pembajakan kepada maskapai Garuda Indonesia dalam penerbangan dari Talangbetu, Palembang menuju Bandara Polonia, Medan.

Hampir semua sektor terkena dampak dari aksi terorisme, baik itu dirasakan langsung atau tidak. Aksi teror yang semakin marak terjadi akhirnya semakin memojokan Agama Islam, karena dalam setiap aksi teror selalu mengatas namakan “Jihad” di jalan Allah. Stigma tersebut akhirnya malah menimbulkan disharmonisasi antar umat beragama satu sama lainnya, bahkan kepercayaan kepada para ustad yang berdakwah di Indonesia sudah mulai berkurang dan akhirnya Kementerian Agama membuat peraturan baru untuk melakukan litsus kepada para ustad untuk mendapatkan sertifikasi berdakwah.

Survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) yang dilakukan sejak Oktober 2010 hingga Januari 2011 mencatat bahwa hampir 50% siswa SMA bersedia untuk ikut aksi kekerasan dalam masalah moral atau isu keagamaan.

Pendidikan Agama yang seharusnya melahirkan peserta didik yang memiliki cinta kasih kepada sesama manusia, justru malah melahirkan peserta didik yang radikal dan berpotensi melakukan aksi teror.

Pengawasan orang tua merupakan kunci utama, berilah anak dengan pendidikan agama secara informal, jangan pernah merasa cukup dengan pendidikan agama di sekolah secara formal, karena tidak ada yang dapat menjamin bahwa pendidikan agama secara formal akan melahirkan hamba yang tulus untuk beribadah kepada Tuhannya. Terlebih, pendidikan formal di Indonesia hanya sebatas penilaian yang dilakukan oleh guru. Lalu, apakah laik untuk menilai pemahaman seseorang dalam beragama?

Ruang gerak teroris memang harus dibatasi dan dideteksi sejak dini, jangan sampai mereka leluasa untuk menyebarkan doktrinnya kepada masyarakat. Karena menurut Global Terrorism Database menyebutkan bahwa ada 7 kelompok yang melakukan penyerangan terbanyak di Indonesia yaitu ISIL, FRETILIN, JAD, MIT, OPM, JI, GAM dengan total sekitar 250 kasus lebih terhitung sejak tahun 1977-2018. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tumbuh subur di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here