Negrimu dan Negriku Berbeda

Negrimu dan Negriku Berbeda
(Ilustrasi Foto: Gharba.com/doc.net)

Oleh: Ryanda Agusty Putra Tayap

Perantau, aku memiliki banyak kecemburuan yang sesak di dalam dada hingga ingin cepat pulang, terlalu indah negri yang kujelajahi sehingga mengantarkanku untuk cepat pulang membangun negriku.

Bagaimana tidak, hari ini, tepat hari dimana aku mendengar kabar dari ayahku bahwa di negriku terjadi hujan yang cukup deras. Sehingga membuat jalan yang biasa dilalui masyarakat baik untuk pergi ke kota maupun mengantar hasil panen sawit ke pabrik rusak parah.

Ya, di negriku sawit adalah komuditi perkebunan yang saat ini ditanam oleh petani, dulunya bukan sawit tetapi pohon karet, iya, karet yang biasa kalian gunakan itu baik sebagai bahan dasar pembuat ban kendaraaan atau apalah aku pun tak tau tetapi kini telah berganti dengan perkebunan sawit, baik kita keluar dari topik alam negriku.

Pertama-tama aku akan berbicara bahwa negriku tak jauh berbeda dengan negrimu yang saat ini menjadi tempat aku menuntut ilmu, negriku dimana alam masih memberikan pasokan untuk ditukar dengan aspal hitam pekat, tapi apa daya bukan aspal yang menjadi jalan utama negriku, hanya seonggok tanah bercampur kerikil dan pasir. Itulah bahan dasar jalan yang biasa dilalui orang-orang di negriku.

Aku merasa sangat cemburu dimana kita hidup di negri yang sama, tapi aku merasa negriku yang jauh di sana berbeda dengan negrimu di sini, kulihat semua jalan yang dilalui orang-orangmu semuanya sudah berbahan dasar aspal hitam pekat bukan lagi seonggok tanah seperti di negriku, bahkan gedung-gedung di negrimu begitu tinggi tak seperti di negriku di mana hanya pohon kayu ulin saja yang tinggi menjulang sedangkan gedung, ah! itu tidak ada hanya pondok kecil-kecil yang ada di sana.

Kapan ya negriku seperti negrimu, pembangunan merata tanpa ada ketimpangan, jalan kita sama gedung kita sama, tanpa adanya perbedaan pembangunan. Maaf ya, hari ini aku hanya mengobservasi perbedaan jalan saja karna kebetulan ayahku bercerita, jikalau jalan di negriku saat ini rusak parah bagai mana tidak rusak, jalan di negriku hanya seonggok tanah kalau hujan deras maka tanah tersebut menjadi lumpur, berbeda dengan negrimu mau hujan mau panas jalan nya tetap akan mulus semulus sutra.

Aku harap Raja tertinggi negri kita atau minimal Raja-Raja kecil di negriku mau memberikan anggaran upeti yang telah kami berikan untuk pembangunan jalan aspal seperti negrimu.

Aku sangat cemburu sekali padahal cemburu itu tidak baik, tapi mau gimana lagi di negrimu aku merasa jalan yang bagus membuat roda perekonomian menjadi lancar. Sedangkan dinegriku ketika jalan terputus atau rusak parah karna hujan maka terputus juga roda perekonomian. Mudah-mudahan kelak negri kita sama-sama dibangun, ya. Tidak ada ketimpangan pembangunan seperti sekarang. Aamiin

Yogyakarta 19 januari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here