Nasi Tumpeng: Ikhtiar Merawat Kearifan Lokal

Nasi Tumpeng: Ikhtiar Merawat Kearifan Lokal
(Ilustrasi Foto: Gharba.com/dok.net)

Oleh: Cipto 23
(Kulomnis lepas asal Besuki)

Menjadi manusia yang arif dan bijaksana
Lebih utama dari manusia pintar dan yang bermartabat.

Indonesia adalah wilayah dengan ragam kebudayaan yang dihasilkan dari ekspresi dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakatnya. Sebelum agama dari India, China, dan Timur Tengah masuk ke wilayah nusantara, wilayah ini telah memiliki beberapa macam kepercayaan seperti kepercayaan terhadap roh nenek moyang, animisme, dinamisme dan sampai kepercayaan monoisme. Dengan bermacam-macam kepercayaan tersebut secara tidak lansung memunculkan banyak tradisi dan kebudayaan yang beranekaragam. salah satunya tradisi tumpeng.

Tradisi nasi tumpeng tidak bisa lepas dari geografis wilayah Indonesia yang memiliki banyak gunung. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa Indonesia memiliki banyak gunung terutama di pulau Jawa. Tradisi nasi tumpeng banyak sekali ditemukan di pulau Jawa, Bali dan Madura. Tradisi ini sebagai bentuk meminta perlindungan kepada para dewa-dewa yang diyakini oleh masyarakat berada di gunung sehingga bentuk nasi tumpeng seperti gunung yang merucut.

Awal mula nasi tumpeng diyakini memperoleh kekuatan supranatural sehingga hanya orang tertentu yang boleh memakannya, tapi dengan datangnya arus peradaban besar, yang ditandai dengan kilau pengetahuan dan modernitas. Nasi tumpeng beralih fungsi hanya sebagai alat untuk menambah pundi-pundi kekayaan.

Satu sisi, nasi tumpeng masih dianggap memiliki kekuatan magis sehingga harus dilestarikan dengan penuh khidmat dan setiap acara yang dianggap sakral mengharuskan adanya tumpeng agar acara tersebut berjalan dengan lancar. Sedang disatu sisi yang lain menganggap tradisi tumpeng merupakan kesyirikan yang harus dijauhi karena tradisi itu merusak iman seorang. Kelompok kedua ini sangat lantang mengatakan haram karena menganggap tumpeng adalah sesajen bagi kaum yang tidak punya tauhid.

Mengutip tulisan Gus Dur bahwa perbenturan budaya antara proses islamisasi dan proses penemuan identitas diri sebagai bangsa. Di satu pihak , islamisasi berjalan pesat, walau dalam wajah yang tidak sama dan intensitas yang berbeda-beda. Kesadaran ber-Islam makin menampakkan bentuk nyata.

Pertentangan antara kelompok yang mempertahankan nasi tumpeng sebagai media kepercayaannya dengan kelompok yang mengharamkan nasi tumpeng dengan alasan “menghancurkan iman seorang”. Pertentangan seperti itu tidak harus ada di negara yang memiliki beranekaragam tradisi, karena tradisi dan kebudayaan merupakan jati diri suatu bangsa yang harus dipertahankan.

Nasi tumpeng merupakan contoh kecil tradisi di negara ini, karena masih banyak tradisi dan kebudayaan negara ini yang memiliki polemik yang harus kita fikirkan bersama-sama. Sebagai masyarakat yang memiliki berjuta tradisi dan kebudayaan kita harus arif dan bijak sana dalam bertindak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here