Miris! Hasil Survei CSIS dan Losta Institut Soal Kekerasan Berbasis Agama di Solo Raya

Miris! Hasil Survei CSIS dan Losta Institut Soal Kekersan Berbasis Agama di Solo Raya

Gharba.com, Yogyakarta – Center For Strategis and Internasional Studies (CSIS) bekerjasama dengan Losta Institut menyelenggarakan Paparan Studi hasil survei bertajuk “Tindak Kekerasan dan Non-kekerasan Ekstrem Berbasis Agama: Studi 3 Daerah Solo Raya”, di Hotel Grand Mercure Yogyakarta (20/3/2019).

Forum tersebut dikonsep dengan diskusi dan kajian yang berlandaskan pada hasil survei dan opini publik yang terjadi di Indonesia.

Uthu Taedini, selaku Direktur Eksekutif Losta Institute mengatakan bahwa kejadian yang berbasis kekerasan agama seringkali terjadi di Indonesia, maka dari itu dilakukanlah survei di beberapa tempat agar bisa mengetahui sejauh mana tanggapan masyarakat terhadap kekerasan agama tersebut.

“Boyolali, Surakarta, dan Sukoharjo merupakan sample survei dengan keseluruhan responden 600 responden” tutur Uthu.

Uthu melanjutkan, metodologi yang dipakai untuk menentukan responden dengan cara pendekatan baru yaitu mengukur sesuai peristiwa yang terjadi, kemudian pengambilan data dilakukan oleh pewawancara sesuai dengan trening dan prosedur yang telah tetapkan lembaga.

Peritiswa yang diukur dalam pengenalan terhadap kekerasan dan non-kekerasan berbasis agama diantaranya ISIS, Bom WTS, Bom Sidoarjo dan Sweeping Tempat Hiburan saat Ramadan, sedangkan tindakan non-kekerasan Aksi Bela Islam 212.

Tanggapan masyarakat dengan motif kekerasan yang terjadi, 90% tidak setuju dengan aksi pengeboman di Sidoarjo dengan latar belakang lulusan SD sampai dengan SLTA, sedangkan kalangan Mahasiswa dan yang pernah kuliah merespon kekerasan agama itu mencapai 98% tidak setuju,” jelasnya Uthu.

Direktur Eksekutif CSIS, Dr. Philips J Vermonte mengatakan, indikasi kekerasan yang berlatar agama dipicu oleh persepsi masyarakat yang masih konservatif.

“Perlu adanya pendidikan dari tingkat Sekolah Dasar sampai perguruan tinggi terhadap isu keagamaan yang seringkali berindikasi pada kekerasan agama,” imbuhnya.

Center For Relegious And Sross Cultural Muhammad Iqbal Ahnaf dari Universitas Gajah Mada memberi pemaparan sekaligus antisipasi dari kekeresan yang berlatar agama dengan membentuk modal gerakan masyarakat yang lebih aktif dan komprehensif. (RF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here