Mengingat Marsinah dan Berbagai Hal Tentang Perlawanan

Mengenang Marsinah dan Berbagai Hal Tentang Perlawanan
Memperingati kematian Marsinah dengan seribu lilin. Foto;gharba.com/doc.cnnindinesia.com

Oleh: Isna Arumiya

25 tahun lalu, tepatnya, 8 Mei 1993, Marsinah ditemukan terbujur kaku di wilayah hutan Wilangan, Nganjuk, Jawa Timur. Marsinah merupakan buruh sekaligus aktivis di perusahaan alroji di daerah Sidoarjo, Jawa Timur.

Siapa yang tak kenal Marsinah, perempuan degan tekat yang menggebu dalam rangka memperjuangkan haknya sebagai buruh, bahkan setiap kali tanggal 1 Mei yang dikenal sebagai Hari Buruh, nama Marsinah selalu dielu-elukan dan menjadi simbol perjuangan kaum buruh perempuan yang tak pernah gentar dengan maut.

Saat itu, ia dan rekan-rekannya menuntut upah layak bagi para buruh yang bekerja di PT. Catur Putera Surya. Berdasarkan surat edaran Nomor 50/Th. 1992, Gubernur KDH Jawa Timur menghimbau agar pengusaha menaikkan gaji karyawan mereka sebesar 20 persen dari gaji pokok.

Pasalnya, unjuk rasa yang dipimpin langsung Marsinah dinilai terlalu frontal. Sehingga, Marsinah ditangkap, dan dikabarkan hilang setelah memimpin demonstrasi dan mogok massal buruh di tempatnya bekerja, PT. Catur Putra Surya, pada 5 Mei 1993.

Aktivis buruh dari Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP) Jumisih menganggap sosok Marsinah jadi representasi perjuangan kaum buruh Indonesia sekaligus simbol keberanian dalam menggelorakan perlawanan.

“Pada masanya, Marsinah melakukan hal luar biasa, memperjuangkan hak buruh, dan simbol buruh perempuan yang berani,” kata Jumisih, pada Senin (7/5/2018).

Hal mendasar yang ada pada Marsinah adalah Rasa tulus yang selalu mengalir dalam setiap perjuangannya, hinnga tak jarang, gerakannya itu, menjadi inspirasi luar biasa bagi para pejuang lainnya. sebagiamana yang dilansir di CNNIndoonesia (8/5/2018), marsinah adalah pejuang perempuan dengan semangat perjuangan melawan hak setiap orang yang seharusnya menjadi miliknya.

Misalnya saja yang terjadi di masa Orde Baru, Marsinah adalah orang terdepan yang senantiasa menyuarakan hak dan kebebasan terutama bagi kaum perempuan. Mulai dari  kelayakan upah minimim regional, cuti hamil dan upah lembur bagi para perempuan di tengah rongrongan rezim yang represif.

Bahkan sampai saat ini, perjuangan upah layak juga masih seringkali terjadi, sekarang buruh perempuan untuk ngambil cuti haid juga banyak dipersulit. Meski sekarang ada kebebasan berorganisasi, tetapi terkadang masih menjadi kesulitan tersendiri di lapangan,” kata Jumisih.

Tak berhenti sampai disitu, pemerintah justru menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 20 tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing, di tengah minimnya perlindungan dan keberpihakan terhadap buruh lokal Indonesia.

Bahkan pada perhelatan Hari Buruh Internasional atau May Day pada 1 Mei beberapa waktu lalu, berbagai serikat buruh menuntut pencabutan Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing (Perpres TKA) dan menolak kehadiran TKA buruh kasar dari China.

Dan yang berarti dari Marsinah adalah semangat perjuangan dalam menuntut hak dan kesejahteraan kaum buruh yang senantiasa dipertahankan dan terus menerus mengalir dalam diri setiap buruh dan juga para aktivis HAM.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here