MEMBACA TAKDIR

Membaca Takdir
(Ilustrasi by:gharba.com/doc.net)

Oleh: Agus Surata

Malam yang semakin larut mengajakku larut dalam rindu yang semakin dalam.
Aku bukan menjadi tuan bagi diriku sendiri, tetapi menjadi budak impian masa laluku yang hingga kini tak pernah dapat terwujud.

Impian itu selalu mencekram ingatanku bersama perjalanan waktuku. Seperti lintah yang menghisap  darah kehidupanku hingga ku lunglai. Tak tegap menapaki rute-rute perjalanan hidupku.

Impian masa laluku selalu mengikuti bayang-bayang hidupku. Ruang hati dan pikiranku tak tersisa untuk masa kini dan masa depan.

Aku tersesat dalam belantara kerinduan mewujudkan impian masa laluku. Haruskah
aku terus terlarut? Itukah takdirku? Atau aku yang rapuh?

Aku tak bisa melupakan, semakin melupakan aku semakin ingat.

Aku harus bisa menerima dan berganti impian. Ternyata itu yang membuatku bisa bangkit.

Aku salah mengartikan cinta itu harus memilikinya, harus dekat dengannya.

Cinta itu memberi bahagia bukan meminta dibahagiakan.Cinta itu ada welas asih, ada iklas, ada nyaman, ada tentram bukan ada derita, bukan ada kecewa, bukan ada dendam, bukan ada benci maupun bukan ada penghamba keinginan.

Cinta itu menabur damai bukan menabur derita.

Setelah jauh darimu kini ku lega, bahagia, bisa lebih memberimu dengan iklas.

Ingat, meski jauh darimu cintaku padamu masih melekat sampai kapanpun.  

Kini kuyakin kalau jauh darimu adalah takdirku.

yogyakarta, 5 Januari 2019

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here