Mau Dibawa Ke Mana Lingkungan Hidup Kita

Mau Dibawa Ke Mana Lingkungan Hidup Kita
(Ilustrasi Foto: Gharba.com/doc.net)

Muhamad Kundarto
(Ketua Pusat Studi Lahan LPPM UPN “Veteran” Yogyakarta,
Dewan Riset Daerah Kabupaten Kendal)

Undang-undang tentang Lingkungan Hidup sudah ada sejak 10 tahun lalu, tepatnya tahun 2009, namun mengapa permasalahan lingkungan dari waktu ke waktu bukan semakin surut, tetapi malah semakin banyak dan kompleks. Apakah penggiat lingkungan jumlahnya jauh lebih sedikit dari mereka yang bebas merusak lingkungan? Jika Ya, mengapa bisa terjadi demikian.

Sepertinya isu lingkungan hidup memang hanya menarik dan berhenti di batas isu saja, bukan di implementasinya. Isu lingkungan ‘senasib’ dengan isu kemiskinan, pengangguran dan pertanian; yang kadang hanya indah ketika diucapkan pada janji-janji politik, dan akhirnya menguap seiring waktu.

Mari kita mulai dari awal hadirnya manusia, yang punya tugas mulia sebagai pengemban amanah di muka bumi dan dilarang membuat kerusakan daripadanya. Faktanya, dengan sedih bisa dikatakan, perusakan lingkungan hidup lebih dominan dibandingkan upaya melestarikannya. Lalu apakah sifat merusak ini sudah takdir, ataukah semua tergantung bagaimana kita sendiri dalam merawat bumi?

Berikutnya kita cermati tata aturan perundangan terkait lingkungan hidup. Selain UU 2009 tentang lingkungan hidup, ada banyak sekali aturan lain terkait dengan upaya pelestarian lingkungan, seperti pengelolaan sampah, AMDAL, PROPER, UKL/UPL, KLHS, dll. Hampir semua aturan itu sudah mendekati ideal, namun ternyata lemah dalam implementasinya. Mengapa??

Konon, semua penegakan aturan itu tergantung manusianya, baik pelaku masyarakat maupun para penegak hukumnya. Apakah masyarakat sudah tersadar untuk melestarikan lingkungan?

Banyak orang membuang sampah di tepi jalan dan badan sungai (aliran air), sampai menumpuk di muara dan sangat mengotori laut.

Banyak limbah dibuang langsung ke perairan tanpa melewati IPAL. Banyak kegiatan penambangan yang minim upaya reklamasi. Silahkan bandingkan luas yang ditambang dengan luas yg sudah direklamasi. Jangan kaget lihat datanya!

Banyak orang dengan sengaja menebang pohon dan sangat sedikit yg mau menanamnya. Banyak orang asyik mengeksploitasi air, tanah tanpa mau bertanggung jawab meningkatkan resapan (recharge) dari air hujan ke dalam tanah.

Bagaimana penegakan hukumnya? Sudah adakah aparat penegak hukum lingkungan hidup? Sudahkah ada pelaksanaannya? Mari kita cermati di sekitar lingkungan sendiri.

‘Budaya’ kita selalu terlambat melakukan pencegahan, lalu muncul bencana lingkungan, baru kita ramai memperdebatkan siapa pelaku dan penanggung jawabnya. Namun lingkungan yang rusak ternyata butuh waktu puluhan tahun untuk memperbaikinya, tidak selesai hanya di meja opini belaka.

Yogyakarta, 6 Februari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here