Maraknya Caleg yang Miskin Gagasan

Maraknya Caleg yang Miskin Gagasan
(Ilustrasi foto by: gharba.com/dok.net)

Oleh : ANJAS JAYA, S.H.
(Pemuda Margakaya, Pringsewu, Lampung)

Dengan, dikeluarkannya UU NO.7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, Indonesia akan menciptakan sejarah baru dalam mewujudkan demokrasinya, yaitu Pemilihan Umum serentak yang akan di laksanakan pada tanggal 17 April 2019. Hiruk pikuk semakin terlihat memanas. saat ini bukan hanya pada persoalan Pemilihan Presiden (Pilpres) yang begitu masifnya oleh TKN (Tim Kampanye Nasional) para calon yang berkampanye, berbagai strategi diterapkan demi memikat hati rakyat.
Namun, terjadi kontradiksi jika kita bandingkan dengan para Calon Legislatif (Caleg) khususnya di kabupaten Pringsewu.

Dua minggu kurang menjelang pemilu, kualitas para Caleg tak kunjung tampak. Rekam jejak masih samar, Gagasan yang mau di perjuangkan tak kunjung di sosialisasikan, masyarakat dibuat bingung tak karuan memilih calon wakil rakyat yang memiliki kemampuan dan gagasan. Sebab, masyarakat hanya di pertontonkan adu ketampanan/kecantikan dalam baleho di pinggir jalan.

Sangat disayangkan memang, seyogyanya kampanye merupakan momentum bagi para wakil rakyat sebagai ajang sosialisasi platform atau gagasan yang akan diperjuangkan jika terpilih nantinya. Namun, senyatanya tidak berjalan demikian, wakil rakyat hanya berpikir pragmatis dan berkampanye adu ketampanan/kecantikan dalam baleho saja yang terpampang manis meriah menghiasi sepanjang pinggiran jalan. Melihat hal demikian, sungguh miris lagi-lagi masyarakat dibuat tidak tahu terkait program yang akan diperjuangkan 5 (lima) tahun kedepan oleh para wakilnya.

Menyoal tentang ini waktu kampanye yang tersisa seharusnya di manfaatkan betul-betul oleh para calon wakil rakyat, untuk turun kedalam masyarakat saling mensosialisasikan gagasan yang akan diusung. Gagasan itulah yang menjadi kekuatan para caleg untuk memikat dan menyentuh hati pemilih. Dengan adanya politik gagasan itu juga menjadikan warna pembeda serta harapan pemilih bagi pemilih ditengah kelabunya pandangan masyarakat terhadap wakil rakyat.

Selanjutnya, tugas kita sebagai pemilih adalah menelaah secara objektif program atau gagasan yang akan di usung dan di perjuangkan oleh para Caleg yang dirasa perlu dan relevan untuk mengatasi permasalahan yang ada pada saat ini.

Ingat 17 April nanti, mari kita berbondong-bondong datang ke TPS untuk menggunakan hak pilih kita. Golput bukan lah pilihan yang bijak, bagaimana mungkin kita ingin adanya perubahan untuk bangsa kita lebih baik, jikalau kita tidak ikut andil merubahnhya. Jadi lah pemilih yang cerdas dalam menentukan pilihan haruslah betul-betul objektif.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here