“Labuhan Mantra Luhur Budaya Nusantara,” Bukti Yogyakarta Masih Lestarikan Budaya Luhur 

“Labuhan Mantra Luhur Budaya Nusantara,” Bukti Yogyakarta Masih Lestarikan Budaya  “Labuhan Mantra Luhur Budaya Nusantara,” Bukti Yogyakarta Masih Lestarikan Budaya  Luhur
(Ilustrasi foto: gharba.com/doc/fir)

Gharba.com – Aliansi Masyarakat Pelestarian Budaya Yokyakarta, akan mengadakan ritual budaya dengan tema “Labuhan Mantra Luhur Budaya Nusantra”. Ritual budaya tersebut akan dilaksanakan di Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta pada, Kamis Pon, pukul 15.00, 25 Oktober 2018.

Ritual budaya tersebut merupakan Upacara Labuhan yang bertujuan untuk mengucapkan rasa sukur kepada Tuhan atas melimpahnya rahmat yang telah diberikan kepada orang atau sekelompok orang, bahkan juga masyarakat di sebuah wilayah. Oleh sebab itu, di setiap acara Labuhan pasti disertai doa sukur kepada yang maha pencipta.

Pada dasarnya, upacara luhur berangkat dari kesadaran pribadi masyarakat, khususnya Daerah Istimiwa Yogyakarta (DIY), yang masih meyakini, bahwa budaya merupakan kebiasaan masyarakat yang tidak bisa di lepaskan begitu saja. Artinya, budaya mempunyai ikatan batin secara mendalam di tubuh masyarakat pribumi. Dengan demikian, Labuhan Mantra Luhur Budaya Nusantara, merupakan ajang untuk menyatukan persepektif dan keyakinan kepada suatu wujud, yakni Tuhan itu sendiri.

Dalam sejarahnya, Labuhan itu lahir sejak Mataram Islam (abad 17) ketika Panembahan Senopati bertahta di Istana Kotagedhe. Tetapi imbrio tradisi Labuhan sudah hadir di jaman Wali Sanga terutama oleh Sunan Kalijaga. Pada saat Sunan Kalijaga Menyebarkan Islam pertama kali yang digunakan adalah melalui budaya, khususnya di Daerah Yogyakarta dengan Wayang Kulit sebagai cara mendapatkan hati masyarakat.

Sebagaiamana diketahui, masyarakat DIY masih menyakini bahwa upacara Labuhan itu juga bisa berwujud membuang sifat-sifat buruk sekaligus meminta pertolongan Tuhan agar sifat buruk itu tidak lagi bermukim di hati setiap manusia. Tradisi Labuhan yang seperti ini kadangkala juga bisa disebut Ruwatan.

Ketua Pelaksana, Ir. Lestanta Budiman, M.Hum mengatakan “Kenapa tradisi ini tetap hidup dan lestari,  hal itu tak lepas dari strategi penyebaran Islam yang dilakukam para Wali terutama para Wali yang hidup di pedalaman,” ungakapnya saat ditemua Gharba.com di Kediamannya, pada (17/10/2018).

Lanjut Budiman, “Ritual itu nantinya akan dikemas dengan berbagai rentetan kegiatan selama sehari penuh, dan pada akhir acara akan dilangsungkan ritual ‘Labuhan Mantra Luhur Budaya Nusantra,’ pungkasnya. (Jim/Min)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here