Konfrensi Pers Prabowo Dikritik Balik Timses Jokowi; Ekonomi Indonesia Sudah Lampu Merah

Konfrensi Pers Prabowo Dikritik Balik Timses Jokowi; Ekonomi Indonesia Sudah Lampu Merah
konfresnsi pers kubu Prabowo didampingi para relawannya. (foto by. net)

Gharba.com – Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin menanggapi konferensi pers kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang digelar kemaren. Adapun konfrensi itu, terkait kasus hoax Ratna Sarumpaet.

Dalam Konfrensi itu, Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto menyinggung terkait situasi ekonomi Indonesia yang sedang lesu. Sebagaimana dilansir detik.com, Prabowo menyebut indonesia masuk deretan ke lima emerging market yang rawan.

“Kita yang tidak dapat mungkiri dirasakan oleh seluruh bangsa dalam keadaan yang tak menggembirakan, bahkan oleh lembaga internasional, Indonesia termasuk digolongkan di antara 5 negara emerging market yang rawan prospek ekonominya dalam waktu yang akan datang,” kata Prabowo.

Bahkan, dalam pembahasan itu, Rizal Ramli yang juga hadir di konferensi itu menyebut ekonomi Indonesia saat ini sudah lampu merah.

Seperti diketahui, nilai tukar dollar Amerika Serikat terus merangkak hingga tembus di angka Rp 15.000, bahkan pada Jumat (5/10) dollar AS menyentuh angka Rp 15.200.

Mendengar hal itu, kubu Jokowi-Ma’ruf akhirnya angkat bicara, seperti diungkap Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN), Johnny G Plate menyebut semua itu hanyalah pengalihan isu.

“Hal-hal seperti itu adalah penggiringan opini dan menciptakan pengalihan isu ke isu yang lain. Tentu masyarakat sangat cerdas untuk melihat ini bukan koreksi substansif, tapi ini hanya sekadar bagian dari ruang demokrasi dengan menyajikan satu isu ke isu yang lain,” tegasnya.

Karena sejauh kabar yang beredar, bahwa itu adalah isu yang tidak berdasarkan data yang falid, maka hal itu dianggap pengalihan isu belaka. Meski demikian, kubu Jokowi-Ma’ruf merasa tidak terpengaruh sama sekali.

“Tidak terpengaruh dengan penggiringan isu-isu baru atau isu-isu lama yang diperbaharui, direpetisi, yang pengulangan-pengulangan isu-isu lama yang sangat menyita perhatian dan mengisi ruang publik hanya isu dan tidak bermanfaat bagi demokrasi kita,” ungkap Johnny. (Min)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here