KH Aqil Siraj Serahkan Rekomendasi Hasil Munas Kepada Wakil Presiden

KH Aqil Siraj Serahkan Rekomendasi Hasil Munas Kepada Wakil Presiden
Ketua Umum PB NU KH Aqil Siraj Serahkan Rekomendasi Hasil Munas Kepada Wakil Presiden Jususf Kalla, di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo Kujangsari, Langensari, Kota Banjar, Jawa Barat, Jumat (1/3). (Foto: Gharbanah.com/dok.net)

Gharba.com, Jabar – Ketua Umum PBNU KH Aqil Siradj menyerahkan rekomendasi NU pada pemerintah melalui Wakil Presiden Jusuf Kalla di acara penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo Kujangsari, Langensari, Kota Banjar, Jawa Barat, Jumat (1/3).

Adapun rekomendasi NU tersebut berkaitan langsung dengan masalah kewarganegaraan, kebangsaan, hingga masalah lingkungan hidup. “Alhamdulillah Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 telah menghasilkan rekomendasi penting yang akan diserahkan kepada Pak Wakil Presiden Jusuf Kalla,” kata KH Said Aqil Siraj.

Rekomendasi yang berisi lima poin penting dalam rekomendasi Munas dibacakan langsung oleh KH Aqil Siraj. Pertama, dalam sistem kewarganegaraan pada suatu negara bangsa (muwathonah, citizenship) tidak dikenal istilah kafir. Setiap warga negara memiliki kedudukan dan hak yang sama di mata konstitusi. 

Kedua,  berdasarkan konstitusi, Indonesia bukan darul fatwa, bukan negara agama. Maka tidak boleh ada lembaga yang mengeluarkan fatwa selain mahkamah agung. “NU sendiri tidak mengeluarkan fatwa, hanya hasil musyawaroh Alim Ulama NU. 

Ketiga, Money Game yang dikenal dengan sistem MLM (Multi Level Marketing) yang mengandung unsur tipu muslihat (ghoror), tidak transparan, dan syarat yang menyalahi prinsip akad sekaligus dari transaksi yang berupa bonus yang bukan barang maka hukumnya haram. 

Keempat, sampah plastik yang sudah menjadi persoalan dunia disebabkan oleh faktor industri dan rendahnya budaya masyarakat menyadari resiko bahaya sampah plastik. Oleh karena itu, penanganan sampah plastik harus memasukkan elemen budaya, sehingga terbangun cara pandang dan perilaku masyarakat terhadap pentingnya menghindarkan diri dari bahaya sampah plastik.  

Kelima, mengoptimalisasi peran NU turut serta menyelesaikan konflik internasional dan mewujudkan perdamaian dunia dengan konsep Islam Nusantara. NU memiliki modal sosial dan insfrastruktur organisasi yang cukup untuk melakukan peran itu. Antara lain dengan mengoptimalkan peran 36 PCI NU di seluruh penjuru dunia sebagai International offices.

Peran NU dalam memperkuat ukhuwah wathoniyah, insaniyah, dan alamiyah sudah banyak diakui dunia. “Sudah saatnya kita berperan aktif menjadi pemain bukan penonton,” pungkas Kiai Said Aqil.(Pun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here