Kepada Lampu Merkuri*

Kepada Lampu Merkuri
(Ilustrasi foto: Gharba.com/dok.net)

Da, Sayangku
Aku mengenal malam-malam yang tidak tidur di sepanjang jalan kota ini,
Juga kisah rumah-rumah yang sengaja mematikan lampunya ketika gelap membius kota ini,
Aku memikirkan kantung tidur bagi mereka yang setia dengan gerobaknya melabuhkan raga pada trotoar dan aspal,
Kantung tidur itu mungkin akan membinasakan dingin malam yang amat borjuistik bagi tubuh manusia biasa,
Konstruksi tubuh manusia yang Ia sengaja ciptakan nyaris ringkih,
Aku membayangkan lampu-lampu merkuri bergantung, kemudian ia memberi hangat pada hati kami yang mulai kacau,
Letak “amanah” yang sengaja kami singkirkan dari peradaban kami,
Kisah ini berlanjut pada cangkir juga tembakau,
Berbicara tentang tanggung jawab yang kami sengaja kaburkan,
Obrolan yang sengaja dipotong beberapa benda dengan kebisingan menjijikan,
Aku tidak sedang membicarakan kereta api yang lewat secara berkala pada rel pojok sana,
Juga kapal terbang yang kabarnya akan singgah dengan menghilangkan perkampungan di ujung sana,
Ahh iya,
Kami sedang sibuk kampanye, Da Sayangku.

Jogjakarta, 2019

Pohon Doa

Menjadi orang-orang yang dicari,
Pada pagimu yang yang datang tergesa-gesa,
Kemungkinan aku akan mati pada kelapangan,
Merangkum doa-doa yang sejak pekan lalu tidak bekerja sebagaimana mestinya.

Langit sudah mendung sejak pagi,
dia ingin hujan katanya,
Untuk membasahi pusaranku nanti,
Tamuku datang sebentar lagi,
Membawa kabar beserta berkas-berkas lama,
Menggandeng tanganku dan melepas jasadku.

Jibril tidak menjemputku,
Ia hanya mengantarku,
Menumbuhkan pohon kamboja di atas tanahku,
Yang subur di atas tangisan-tangisan,
Dan doa-doa akan tumbuh pada gudukan tanah yang basah.

Jogjakarta, 2019

*AnjaniMedya, Aktivis Gender dan Mahasiswi Sastra Inggris UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here