Kantor Perwakilan Organisasi Pembebasan Palestina di AS Resmi Ditutup; Palestina Tidak Akan Tinggal Diam

Kantor Perwakilan Organisasi Pembebasan Palestina di AS Resmi Ditutup; Palestina Tidak Akan Tinggal Diam
Ilustrasi (Gharba.com/doc/net)

Gharba.com – Kantor Perwakilan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) untuk Amerika Serikat di Washington DC resmi ditutup oleh sejumlah diplomat Mesir.

Meskipun begitu, pejabat Palestina yang tinggal di Washington bersumpah untuk tetap menyuarakan perjuangan kebangsaan meski kantor perwakilannnya di AS kini sudah ditutup dan tidak akan beroperasi lagi, demi kedamain dan kemerdekaan Palestina.

“(Penutupan) ini adalah upaya untuk membungkam suara kita. Ini adalah sebuah tindakan penyaringan,” ucap seorang diplomat PLO, Hakam Takash, dalam upacara penutupan kantor perwakilan, Rabu (10/10) kemarin.

Takash mengatakan bahawa hal ini merupakan awal baru tidak hanya bagi relasi AS-Palestina, tapi juga perjuangan komunitas kita.

Dalam kesempatan itu, Takash juga berpesan agar warga Palestina yang tinggal di Negeri Paman Sam tersebut tetap optimis dan menyuarakan bahwa mereka tetap menjadi Duta Besar bagi negaranya, Palestina. Hal itu untuk meyakinkan dunia bahwa mereka tidak akan pernah diam demi kemerdekaan Palestina.
“Kalian semua akan tetap menjadi duta besar di sini yang bisa terus menyuarakan pesan perjuangan agar dunia melihat bahwa Palestina tidak akan diam,” paparnya di hadapan sejumalh pejabat dan warga Palestina.

Sacara simbolis upacara penutupan diisi dengan pencopotan plakat kantor perwakilan PLO.

Pada 13 September lalu, AS sudah memutuskan untuk menutup kantor PLO namun pemerintah AS kemudian memberikan dispenasasi waktu bagi para diplomat untuk menyelesaikan tugasnya yang masih tersisa.

Penutupan yang dilakukan oleh pemerintah AS terhadap kantor tersebut didasarkan kepada pemerintah Palestina yang menolak untuk bernegosiasi damai dengan Irael.

Bagi Palestina penolakan mereka terhadap negosiasi damai yang dilayangkan oleh AS dianggap sangat tendesius.

Pasalnya mereka menganggap bahwa AS masih menjadi mediator konflik antara Palestina dengan Israel. Bahkan Pemerintahan Donald Trump dirasa lebih berpihak kepada Israel dan tetap memutuskan mengakui Yerusalem sebagai ibu Kota Israel. Padahal sudah jelas timbunya konflik antara kedua Negara Timur Tengah tersebut dasarnya adalah keduanya sama-sama mengaku kota suci bagi tiga agama besar dunia itu sebagai ibu kota masa depan mereka.

“Sayangnya, pemerintahan AS saat ini telah menunjukkan sifat yang tidak bersahabat dengan tindakan dan kebijakannya ini. Pemerintahan AS saat ini lebu suka mendikte ketimbang bekerja sama, lebih suka memaska daripada bernegosiasi,” bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Palestina yang dibacakan dalam acara tersebut seperti dikutip AFP.

Dalam pernyataan itu, Palestina menegaskan AS tidak bisa melanjutkan perannya lagi memimpin proses perdamaian Israel-Palestina sampai mau mengubah kebijakan keberpihakannya itu.

“Apa yang kami ingin katakan adalah sederhana-Anda (AS) dapat menutup kantor kami, membungkam suara, tapi orang-orang Palestina tidak akan pergi,” ucap James Zogby, seorang advokat Palestina sekaligus Presiden Institut Arab-Amerika.

“Mereka (warga Palestina) akan tetap ada. Mereka tetap ada di tanah mereka, mereka tetap ada di kamp-kamp mereka menunggu waktu untuk kembali ke tanah mereka, dan kami di sini sebagai komunitas akan tetap bersuara mendukung mereka, suara rakyat Palestina.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here