Jiwa Korsa: Manifestasi Karakter yang Berintegritas

Jiwa Korsa: Manifestasi Karakter yang Berintegritas
(Ilustrasi foto: gharba.com/dok.net)

Oleh: Eka Saragih
(Adalah mahasiswa Pertanian UPN “Veteran” Yogyakarta)

Jika kita ingin menciptakan karakter yang berintegritas, maka kita berbicara pembangunan jangka panjang dalam bentuk kepribadian, sehingga yang harus diciptakan di sini adalah karakter siswa yang berintegritas. Dalam buku “Teori Kepribadian”, Yusuf dan Nurihsan mengemukakan setidaknya ada 2 (dua) faktor utama yang mempengaruhi proses pembentukan dan perkembangan kepribadian, yaitu genetik dan lingkungan.

Faktor genetik, sebenarnya tidak mempengaruhi secara langsung, karena yang dipengaruhi oleh faktor ini adalah kualitas sistem syaraf dan keseimbangan biokimia tubuh. Sedangkan untuk faktor lingkungan, adalah faktor yang dapat membentuk karakter seseorang secara langsung karena manusia akan terus bersinggungan dengan lingkungannya selama ia berada di dalam lingkungannya dan hal tersebut jelas akan mempengaruhi pola pikir dan karakter.

Untuk menciptakan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi proses perkembangan dan pembentukan kepribadian yang berintegritas, maka semua elemen harus ikut bertanggung jawab menciptakan lingkungan yang sempurna. Adil dalam setiap andil dengan kapasitasnya masing-masing. Sekurang-kurangnya, akan ada 3 (tiga) faktor yang perlu diciptakan. Penanaman jiwa korsa yang menyeluruh, sosok guru yang mampu membimbing siswa dengan dasar kemauan dan kemampuan individu siswa yang beragam, serta sosok alumni yang dapat memberikan harapan serta asa kepada siswa agar kelak dirinya mampu bersaing.

Pertama, penanaman jiwa korsa yang menyeluruh. Napoleon Bonaparte adalah tokoh pertama yang mengenalkan L’e sprits de corps atau jiwa korsa. Konsep jiwa korsa ini serupa dengan konsep ’Ashabiyah yang dikemukakan Ibnu Khaldun, ia mengartikan ’Ashabiyah adalah solidaritas sosial. Menurutnya solidaritas sosial atau rasa golongan yang dihubungkan oleh pertalian darah atau pertalian yang lain mempunyai arti dan tujuan yang sama. Hal ini disebabkan karena pertalian darah mempunyai kekuatan mengikat pada kebanyakan manusia, yang membuat mereka ikut merasakan tiap kesakitan yang menimpanya.

’Ashabiyah Pada pokoknya adalah kerjasama untuk saling tolong menolong yang erat dalam suatu kelompok yang berbentuk sedemikian rupa, sehingga kelompok tersebut bukan hanya saling membantu tetapi bersedia mengorbankan jiwa untuk kepentingan bersama. Artinya, siswa yang memiliki jiwa korsa yang kuat akan tetap terus menjaga solidaritas sosialnya hingga nanti menjadi alumni, bahkan seharusnya jiwa korsa dimanifestasikan bersama dengan guru agar tidak menciptakan kubu-kubu yang seolah sedang berhadapan satu sama lain. Padahal jika dilihat lebih jauh, hal yang diinginkan dosen dan siswa itu sama, yaitu peningkatan kualitas manusia Indonesia.

Kedua, sosok guru yang mampu membimbing siswa dengan dasar kemauan dan kemampuan siswa berdasarkan individu yang beragam. Berdasarkan pertimbangan dalam UU No.14 Tahun 2005, guru memiliki peran, fungsi dan kedudukan yang sangat strategis dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia serta menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, makmur dan beradab berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Namun, bila dilihat dari tugas dan kewajiban keprofesionalan guru yang sangat berat, maka menjadikannya sulit untuk bisa terus berinteraksi dan membimbing siswanya secara langsung. Terlebih, gaji rata-rata guru saat ini bisa dikatakan belum mencukupi untuk menopang kehidupan perekonomian, sehingga menjadikan guru merasa kurang diapresiasi dalam melaksanakan tugasnya yang berat. Akhirnya, peran, fungsi dan kedudukan yang tertuang dalam pertimbangan UU No.14 Tahun 2005 bisa dikatakan terlalu utopis, mengingat melaksanakan pendidikan saja tidaklah cukup untuk siswa dalam menghadapi era globalisasi sekarang ini.

Serta yang ketiga, sosok alumni yang mampu memberikan asa dan harapan kepada mahasiswa. Dalam penelitian yang dilakukan Tom dengan judul Alumni Willingness to Give and Contribution Behaviour, alumni memberi kontribusi yang cukup besar dari sikap mereka di lapangan, baik di masyarakat maupun lingkungan kerja. Alumni merupakan ujung tombak akuntabilitas sebuah sekolah karena keberadaan serta aktivitas mereka akan membawa nama almamater, sehingga kelebihan dan kekurangan dari alumni di masyarakat akan membawa dampak, baik itu kecil maupun besar terhadap almamaternya. Terlebih lagi Moh.

Hatta pernah berpidato bahwa kaum intelegensia Indonesia mempunyai tanggung jawab moril terhadap perkembangan masyarakatnya. Apakah ia duduk di dalam pimpinan negara dan masyarakat atau tidak, ia tidak akan pernah lepas dari tanggung jawab itu. Maka dari itu, alumni sudah seharusnya memberikan mimpi yang nyata kepada para siswa dengan tetap menjaga komunikasi dan relasi serta terjun langsung baik di dalam lingkungan masyarakat, lingkungan pekerjaan atau bahkan sebagai pejabat negara dengan tetap menjaga nama baik almamater.

Ketiga faktor tersebut, akan dengan mudah tercipta ketika konsep jiwa korsa benar-benar dimaknai dan diterapkan menyeluruh, karena point 1, 2, dan 3 merupakan implementasi dari rasa solidaritas, sepenanggungan dan cita-cita yang sama dengan membagi tugas masing-masing berdasarkan kapasitasnya. Dengan menciptakan kondisi lingkungan yang kondusif untuk membentuk dan mengembangkan karakter siswa yang berintegritas, maka bukan tidak mungkin tahun 2028 kelak, mutu pendidikan kita akan mulai merangkak naik dan menggusur negara-negara maju di dunia. Karena sejatinya, keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari suatu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa pernah kehilangan semangat. Oleh karena itu, sinergitas antara mahasiswa, dosen dan alumni dalam menciptakan lingkungan yang kondusif merupakan kunci dalam menciptakan karakter yang berintegritas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here