Imlek Dan Cita-Cita Perdamaian

Imlek Dan Cita-Cita Perdamaian
(Ilustrasi foto: Gharba.com/doc.net)

Oleh: J. Rifa
(Wartawan Gharba.com)

Tahun baru Imlek merupakan perayaan terpenting orang Tionghoa. perayaan tahun baru Imlek di mulai pada tanggal lima belas yang di kenal dengan (bulan purnama). Malam tahun baru Imlek sebagai pergantian tahun dan menyambut datangnya tahun baru. Karena tahun itu adalah sebagai hari Raya orang “Tionghoa” dan tahun baru Imlek harus dilakukan bagi orang Tionghoa sebagai rasa bersyukur terhadap apa yang sudah di karuniai selama satu tahun.

Tradisi yang paling utama dalam menyambut kedatangan tahun baru Imlek adalah menyediakan amplop merah. Dengan berisi uang sebagai tanda keberuntungan, yang akan diberikan terhadap anak kecil yang di siapkan oleh orang tua. Bagi orang yang sudah menikah mereka memberi amplop merah kepada keluarga yang masih belum menikah.

enyambutt malam tahun baru Imlek, masyarakat Tionghoa sudah menyediakan makan malam untuk keluarga. Sekaligus membersihkan rumah sebagai simbol membersihkan musibah untuk tahun lalu dan menyambut tahun baru dengan keberkahan yang baru. Dua tradisi tersebut sudah menjadi kebiasaan yang paling utama, karena tradisi itu salah satu untuk mengikat tali persaudaraan antar keluarga.

Sebelum menyambut datangnya tahun baru imlek banyak Komonitas China yang berada di Negara Indonesia yang membuka toko di antaranya adalah menjual baju, kembang api, mainan, hadiah dan alat kebutuhan dapur. Simbol-simbol seperti itu yang membuat tali persaudaraan China dengan masyarakat Indonesia tulen melakukan kolaborasi yang harmonis.

Dirayakan di daerah dengan populasi Tionghoa, dikenal dengan hari libur nasional berdasarkan Keprres no 19/2002 dan diterapkan sebagai hari libur pada tahun 2003. Dan selain Indonesia, tahun baru Imlek juga merupakan hari libur nasional di Brunai, Filipina, Malaysia, Korea dan lain sebagainya. Karena warga Negara Indonesia ada yang merayakan tahun baru imlek sebagaimana yang dilakukan di Tionghoa. maka dari itu, kita harus menghargai perbedaan itu.

Menyadari itu semua adalah bentuk persaudaraan yang solid untuk membagun Negara Indonesia yang harmonis. Indonesia sendiri adalah masyarakat multikultural dan banyak budaya, agama ras dan etnis. Dari beragam perbedaan itu, Indonesia harus mampu mempunyai sifat toleransi dengan sesama agama yang berada di Indonesia. karena bangsa Indonesia bukan Negara Islam dan keutuhan suatau negara tergantung masyarakat yang mempunyai sifat nasionalisme yang sagat besar untuk menjaga NKRI.

Pada rezim Suharto berkuasa, bangsa Tionghoa yang berada di Indonesia sudah diperlakukan dengan tidak semestinya di lakukan terhadap sesama manusia. Karena pada saat itu dalam sektor pemerintahan negara Indonesia Tionghoa tidak di berikan kedudukan. Selama Orde Baru menjadi raksasa tunggal di bumi nusantara, bangsa Tionghoa terus tersisih dalam menjalani kehidupan sosial-politik bahkan dalam hal perekonomian.

Kebijakan mengerikan terus berjalan sampai pada suatu hari, udara pencerahan lahir dari letusan reformasi. Bendera Indonesia berkibar dibawah langit yang taklagi mendung dengan otoritarianisme. Termasuk Indonesia Tionghoa kini dapat duduk satu meja bersanding membicarakan ihwal Negara, politik dan ekonomi.

Adalah Abdurahman Wahid (Gus Dur), oase reformasi sekaligus sumber dari kerukunan dan kesatuan bangsa Indonesia dengan gagasan cemerlangnya toleransi (agama) dan menjunjung tinggi harkat kebhinekaan dalam membangun Negara Indonesia. Apa lagi, terkait etnis Cina-Tionghoa sudah lama berada di Indonesia bahkan sudah sejak Indonesia masih berbentuk kerajaan telah bersatu padu untuk sama-sama hidup merdeka di bumi pertiwi ini.
Ketika persiapan kemerdekaan Indonesia ada 62 anggota tokoh. Dari anggota itu ada 4 tokoh yang berasal dari Tionghoa. Dari 4 tokoh itu ada salah satu yang menjiwai tentang tanah air Indonesia. Bahwa, masyarakat Indonesia harus mempunyai darah tulen Indonesia agar bisa mempertahankan ideologi Pancasila dari hal apapun.

Di Indonesia, setiap anggota keluarga cina menyatu kembali karena adanya kebersamaan untuk makan malam sekaligus menyambut datangnya tahun baru imlek. Setelah setiap anggota keluarga hadir dengan hidangan besar yang akan di nikmati bersama. Kombinasi makanan Tionghoa dengan makanan lokal Indonesia akan menjadi makanan khas yang merayakan tahun baru imlek di Indonesia. ciri-ciri seperti itu yang harus di pegang teguh oleh masyarakat Indonesia demi membendung hal-hal yang ingin merusak ideologi pancasila.

Saya kira Tahun Baru Imlek ini merupakan tonggak dan kecelakaan sejarah bagi orang yang mengatakan ingin merusak NKRI dan ingin mencederai ideologi pancasila. Karena kebanyakan ummat beragama khususnya yang tidak ikut merayakan tahun baru imlek sudah menilai dengan drama sistematis yang dibuat olehnya. Tidak lain karena mereka tidak menemukan titik terang dalam mendamaikan antar agama. Tapi entahlah ini hanya asumsi yang dangkal saja.

Akhir kata, datangnya tahun baru imlek memang mengancam terjadinya kesalah fahaman dan hal-hal yang tidak diinginkan oleh negara Indonesia. maka dari itu, keberadaannya merupakan tantangan bagi negara Indonesia dan seluruh masyarakat yang mengiginkan kehidupan damai. Indonesia dan masyarakat merupakan ujung tombak mencegah kesalah fahaman. Namun kembali kepada hati nurani masing-masing untuk menjawab pertanyaan ini, perlukah melakukan tindakan demi tercapainya sebuah perubahan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here