HILANGNYA TOKOH PEMIMPIN DALAM DUNIA PENDIDIKAN KITA

HILANGNYA TOKOH PEMIMPIN DALAM DUNIA PENDIDIKAN KITA
(Ilustra gambar by: Gharba.con/doc.net)

Oleh: Rifa’ Jihan Habibah*

Leadership atau yang biasa disebut dengan “kepemimpinan” merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang leader atau “pemimpin” tentang bagaimana menjalankan eksistensi kepimpinannya (to lead) sehingga para bawahannya dapat bergerak sesuai dengan tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya. Kepemimpinan juga dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membujuk atau mempengaruhi seseorang atau kelompok untuk berbuat sesuatu sehingga tujuan yang dikehendaki suatu organisasi dapat tercapai.

Berkaitan dengan pencapaian tujuan bersama, maka keberadaan seorang pemimpin dalam suatu organisasi sangatlah diperlukan, termasuk dalam organisasi pendidikan. Keberhasilan sekolah sebagai lembaga atau organisasi pendidikan sangat tergantung oleh peran kepala sekolah sebagai seorang pemimpin sekaligus sebagai orang nomor satu disekolah tersebut.

Dalam menjalankan perannya sebagai seorang pemimpin, seorang kepala sekolah tentunya memilki gaya (style) tersediri. Gaya kepemimpinan ini secara tidak langsung mengisyaratkan kualitas seorang pemimpin. Jika seorang kepala sekolah memiliki profil kepemimpinan yang berkualitas, maka akan melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas pula. Yang dimaksud sumber daya manusia yang berkualitas adalah berkarakter, cerdas, mandiri serta kompetitif.

Oleh karena itu, untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas, maka kuncinya adalah terletak pada kepemimpinan seorang kepala sekolah. Namun bagaimana jika seorang kepala sekolah justru menyalahgunakan otoritasnya sebagai seorang pemimpin? Tentu saja hal ini akan mempengaruhi mutu dan kualitas sekolah yang ia pimpin.

Tanpa kita sadari, dewasa ini telah terjadi urgensi kepemimpinan seorang kepala sekolah dalam menjalankan fungsinya sebagai seorang pemimpin. Hal ini sebagaimana diketahui bahwa akhir-akhir ini kerap ditemui permasalahan terkait penyalahgunaan jabatan kepala sekolah yang telah mencuat ke berbagai media dan menjadi perbincangan publik. Pemberitaan ini tentunya memberikan kesan tidak baik di dunia pendidikan yang berakibat tercorengnya nama baik sebuah lembaga pendidikan karena ulah kepala sekolah yang dianggap “nyleneh”. Perilaku kepala sekolah yang dianggap menyimpang tersebut adalah seputar masalah pelecehan seksual, penganiayaan terhadap murid serta guru, korupsi hingga kebijakan-kebijakan yang tidak wajar sehingga menyebabkan para guru menggelar aksi mogok mengajar.

Hal ini seperti yang dilansir dari TribunNews.com, yang memberitakan sebuah aksi mogok mengajar oleh belasan guru di SDN 002 Batam Kota. Aksi yang terjadi pada tahun 2013 lalu itu dilatarbelakangi oleh adanya kebijakan-kebijakan tak wajar yang dilakukan oleh Yuraini yang tak lain merupakan Kepala Sekolah di SDN 002 Batam Kota. Dengan tanpa pembahasan atau musyawarah terlebih dahulu bersama sejumlah guru, mendadak ia melakukan pergantian program-program yang sebelumnya sudah berkualitas dan berjalan dengan baik dan parahnya lagi pergantian program tersebut tidak disertai dengan alasan yang jelas . Selain itu, Yuraini juga kerap berlaku kasar kepada para guru di depan sejumlah peserta didik.

Ulah Kepala Sekolah yang menyimpang tidak hanya terjadi di SDN 002 Batam Kota pada 2013 lalu, namun baru-baru ini tepatnya pada Januari 2019 juga terjadi kasus yang serupa, yakni seperti yang diberitakan oleh iNews.id dimana Kepala Sekolah di SMP Baitul Hikmah Garut, Jawa Barat dilaporkan oleh beberapa orang tua murid karena diduga melakukan penganiayaan terhadap sejumlah muridnya pada saat melakukan Shalat Dhuha. Dengan tega, Kepala Sekolah ini melakukan aksi kejamnya dengan cara membenturkan kepala siswa dengan kepala siswa lainnya sehingga menimbulkan luka-luka di pelipis kepala.

Ironis memang ketika melihat perilaku pemimpin pendidikan saat ini justru lebih memperlihatkan sisi kesewenang-wenang-nya dan arogan-nya ketimbang kekuatan atau potensinya yang berupa kewibawaan, sifat-sifat dan keterampilan, perilaku (behavior) yang mencerminkan seorang pemimpin serta fleksibilitasnya. Mengacu pada kasus-kasus di atas, maka sebenarnya para muridlah yang menjadi korban sesungguhnya. Bagaimana tidak, Kepala Sekolah yang seharunya menjadi panutan dan dipercaya untuk mengatur, memelihara, melakukan perbaikan mutu pendidikan serta menciptakan iklim pendidikan yang profesional justru membuat lingkungan sekolah menjadi tidak aman bagi muridnya sendiri. Dampak lebih lanjut yang terjadi adalah dapat memunculkan sikap traumatis bagi para peserta didik terhadap elemen pendidik.

Oleh karena itu, Kepala Sekolah perlu untuk mengevaluasi secara terus menerus terhadap pelaksanaan kepemimpinan yang telah dijalankan, baik terkait mengenai kebijakan-kebijakan yang diterapkan maupun dari segi perilaku, sehingga persepsi para guru dan peserta didik terhadap Kepala Sekolah akan semakin postitif. Mengingat perilaku dan kebijakan Kepala Sekolah sebagai pelaku utama sebuah organisasi sekolah sangat menentukan kinerja dan produktivitas warga sekolah dalam menghasilkan peserta didik yang berprestasi.

* Adalah mahsiswa Probolinggo Jatim, Aktivis pendidikan muda Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here