Dia Ciptakanku Dalam Tahap, Kau Hancurkanku Dalam Kejap

Dia Ciptakanku Dalam Tahap, Kau Hancurkanku Dalam Kejap
(Ilustrasi foto: Gharba.com/dok.Agus Suwage.net)

Oleh: Syahrizal Shofiyul Fikri

Anak kecil itu menangis
Tempatnya bermain berubah menjadi deretan pagar tralis

Taring dan gading jadi hiasan dinding
Gajah terakhir terbaring mengering

Pujangga desa tak mampu lagi bermain kata
Senjanya tertutup beton dan besi-besi raksasa

Harapan petani untuk hidup makmur telah terkubur
Bersama kampungnya terendam lumpur sulfur

Ikan-ikan menghitam, mengembung, dan mengambang
Di antara botol dan bungkus makanan yang sembarang terbuang

Nelayan dengan mimpinya tenggelam
Bersemayam di dasar kolam limbah pabrik logam

Deru bising mesin-mesin destruksi
Mengubah hutan menjadi pabrik plastik bernutrisi…


Semua itu telah tergambar 30 tahun yang lalu di dalam imajinasi seorang petani padi, yang kini sedang menik(mati) hidup di hari tuanya, dengan duduk menyaksikan pertunjukan tari sambil sesekali menyeruput seduhan hujan merkuri.

Ia hanya diam dari pagi hingga jingga. Rautnya terlihat bahagia, membuat bingung sang pujangga desa yang ternyata sedari tadi ikut duduk di sebelahnya.

“Mengapa kau tersenyum menyaksikan penari-penari besi itu berpentas di atas panggungmu?”

“Karena aku bangga menjadi petani padi. Meski sekarang hanya ilmunya yang kupunya. Ya, itulah mengapa aku tersenyum. Izinkan aku berbangga hati kali ini saja, ya?”

“Maksudmu?”

“Yang menang akan mengalah, dan mengalah bukan berarti kalah. Mungkin itulah definisi ilmu padi yang aku dapatkan. Setelah bertahun-tahun mencoba bertahan, dan semoga saja sekarang masih bertuhan.”

“Aku masih belum mengerti.”

“Begini anak muda, lahan di depan kita ini sudah berumur empat kali dirimu. Aku dan orang-orang pada masaku memulainya dengan suka dan merawatnya penuh cita. Dari dulu aku suka bertani, bahkan jauh sebelum menyentuh padi. Hampir tiap malam aku berdiskusi untuk bisa menghasilkan komoditas bernilai jual tinggi. Aku sering susah tidur memikirkan bagaimana caranya agar warga desa ini bisa sejahtera”.

“Sampai pada suatu saat, perjuanganku terbayar. Pupuk ramuanku dipatenkan, terjual habis di pasaran. Perekonomian meningkat signifikan. Aku tak percaya bisa menyulap tongkat kayu dan batu jadi tanaman”.

“Namaku besar di antara khalayak, disebut-sebut orang banyak. Dari situlah, perlahan muncul rasa angkuh. Berbunga dan berbangga menganggap diriku orang berpengaruh. Meskipun, dengan diam kusimpan sombongku dalam-dalam”

“Aku berpikir, aku harus belajar hal baru untuk meluluhkan arogansiku. Aku coba ini dan itu, namun pembawaan serba tahu masih saja melekat dan membelenggu. Semakin sering muncul perasaan, apakah perjalananku ini memang menuju Tuhan ataukah sebatas memuaskan keinginan”

“Aku mencoba merefleksikan orientasiku selama ini. Berbekal niat ingin menumbuhkan kembali rasa peduli, aku membanting kemudi menjadi petani padi. Terlebih di sektor ini masih banyak yang perlu dibenahi. Berbaur bersama pemain-pemain lama, mendengarkan keluh kesahnya, pun ikut merasakan peluh juga resahnya”.

“Hal itu kulakukan bukan tanpa risiko. Meninggalkan hidup mewah, untuk kembali turun ke bawah. Aku tak peduli. Ada makna dan cerita tersendiri ketika aku masuk ke dalam dunia ini. Saat itu aku mulai sadar, bahwa hidup tak selalu soal alat tukar”.

“Terakhir, dan ini paling berkesan. Momen yang tak akan pernah kulupakan. Saat aku dipertemukan oleh seorang nelayan di sebuah warung makan sepulang dari peradilan. Ketika korban reklamasi dan alih fungsi sama-sama sedang antri untuk mengambil nasi.”

“Aku mengerti sekarang.”

“Ya, begitulah. Di sisa asa dan usia ini, aku bahagia bisa tersenyum atas diriku sendiri, meski di balik itu selalu ada tangis untuk negeri ini.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here