DEBAR MAWAR PANGANTEN ANYAR[1]

DEBAR MAWAR PANGANTEN ANYAR
(Ilustrasi Foto By: Gharba.com/doc.net)

Jauh sebelum akad pernikahanku dengan Lukman, ibu melarangku keluar rumah sebab tangan-tangan bencana sedang melakukan ritual nasib yang akan di taburkan di luar pagar rumah orang-orang yang hendak melaksanakan pernikahan termasuk di luar pagarku. Nasib bagi perempuan yang jika menginjak benih-benih nasib tersebut, tidak jadi menikah di waktu yang telah di tentukan lantaran di pihak istri seperti terlihat suatu keburukan yang di pandang menjijikkan oleh pihak suami.

Begitu pula yang akan terjadi pada Lukman, jika ia keluar rumah dalam tujuh hari sebelum akad, maka tangan bencana akan meremas keberaniannya sebagai lelaki terhadap istri. Sudah menjadi kewajiban, bagi calon suami untuk mencari panangkal[2]yang sudah diberkahi oleh doa-doa kiai agar dilindungi dari bencana-bencana sepi. Selain itu, calon istri disarankan untuk lebih rajin merawat diri agar ketika pernikahan tiba, ia terlihat lebih sempurna dan ia akan terbiasa bersih disisi suami.

Hari yang sudah disepakati sudah sangat dekat, orang-orang mulai sibuk  mengerjakan persiapan yang mau dihidangkan. Mulai dari kue, mahar,  mostomos[3], aneka lauk, bantal guling, penangan[4], dan seperangkat alat rumah lainnya seperti kasur, dipan, kursi, lemari dan lain-lain dari keluarga Lukman untuk dibawa ketika hari pelaksanaan akad  dirumahku.

Begitu pula di rumahku yang juga tak kalah sibuk mempersiapkan hidangan dan sesajen balas pemberkahan yang akan dihaturkan pada rombongan Lukman ketika esok mengantarnya ke rumahku. Jajan main[5], aneka kue yang sedikit berbeda dan lebih banyak dari bawaan Lukman, seperti lauk yang ragamnya lebih lengkap, dan seperangkat lainnya yang berbeda pula.

Tak banyak perbedaan antara tradisi pernikahan di desa Tamidung dengan tradisi pernikahan di Bluto meski ada beberapa perbedaan dari tardisi-tradisi yang lain. Ada juga beberapa makanan khas yang berbeda yang juga tak lupa dibawa saat pernikahanku nanti, sebagai cimat  keramat yaitu, lopes makanan khas di desaku dan jubede khas Bluto.

Sore yang keindahannya menggetarkan mawar didadaku, manakala anganku kembali mekar dalam suasana yang mungkin akan berbeda setelah aku melarungi mimpi dengan suamiku, Lukman. Sejauh keindahan yang aku bayangkan di liut polasan merah di tangan dan kakiku, seperti tertulis ketulusan Tuhan serta segenap keridlaan yang mengalir tentram. Perlahan kudengar suara ibu dan beberapa kerabatku sedang membicarakan rencana pemilihan orang-orang yang akan diikutsertakan dalam mengiring pengantin perempuan dan salah satunya adalah sovi sepupu kecilku yang sudah menikah lebih dulu dariku.

Dua malam yang akan datang mungkin aku bukan lagi Selma yang selalu melucu pada ibu setiap menjelang tidur, bahkan dari saat ini pun perubahan- perlahan mengalir, searah dengan darahku yang berdesir membuatku sering diam. Tak dapat kubayangkan betapa bungkamku saat aku bersama Lukman, orang yang hanya ku kenal lewat suara setelah pangadha’[6], orang tuaku dan orang tuanya mengikrarkan pertunangan sebulan lalu, pangadha’  menyarankan Lukman agar menelponku waktu itu, walau dari jarak jauh lantaran dia masih di Yaman, tempat dia melanjutkan Studi bahasa arab di Universitas Sana’a, untuk sekedar memastikan jawabanku terhadap pinangannya.

Meski secara jujur kukatakan bahwa aku menerimanya atas ketidak pahamanku tentang perasaan yang secara tiba-tiba bersemayam di dadaku setelah kiai menceritakan sedikit tentang dia. Aku suka skilnya, suka tnggung jawabnya, suka kecerdasannya dan benih dalam hatinya yang diam-diam merambat ke hatiku, mencipta akar kesejukan yang menyimpan sumber ketentraman disana. Aku seperti bumi yang hidupku perlahan bergantung pada tetes kebenaran yang senantiasa mengalir dari jiwanya yang teduh.  Sepasang damar kambang[7] mulai dinyalakan dalam kamarku agar cahaya dari keduanya terus meliut menemui sang maha cinta untuk meminta keberkahan padaNya bahkan sesepuh memaknainya dengan tergambarnya nasib kedua mempelai ada pada remang keduanya.

Selain itu terdapat beberapa sesajen mentah seperti ketan, pisang, kelapa, dan beragam bumbu mentah pula yang katanya ketika pernikahanku tiba, semua itu diserahkan pada pangadha’ sebagai  penyerahan sepasang pengantin agar jika terjadi sesuatu pada keduanya, dialah yang harus menyelesaikan dengan jalan musyawarah pada keduanya terlebih dahulu.

Waktu seperti terlindas begitu cepat menuju gigir malam dimana akad nikahku akan berlangsung. Aku mulai di dandani seusai shalat manghrib sebab rombongan Lukman akan segera tiba setelah shalat isyak nanti. Dengan segenap keraguan yang berdendang di dada, hatiku perlahan menyanyikan banyak kekhawatiran dan ketakutan tentang pernikahan.

Setelah beberapa menit berlalu, aku hanya berdiam di kamar sampai terdengar keriuhan di luar bertanda rombongan Lukman telah tiba dari Bluto. Dadaku semakin bergemuruh seperti mencipta riak lain yang merontokkan bibir tepi di hati serta darah yang berdesir di tubuhku semakin liar menggetarkan kelopak-kelopak  mawar di jantungku membuatku salah tingkah sendiri di ambang pintu, sebelum aku beranjak keluar untuk bersalaman ke orang tua Lukman.

Sebelum itu, sempat ku lihat mereka beriringan dengan membawa seperangkat pernikahan persis seperti yang kudengar dari nenek tentang peraturan tata cara berjalan saat memasuki area rumah mempelai perempuan seperti halnya yang berjalan paling depan itu yang membawa pengangan [8]berisikan gambir pembawa kegembiraan, kapur sebagai tanda kesempurnaan dalam keluarga dan dua daun sirih yang menurut sesepuh sebagai isyarat penyerahan pengantin laki-laki terhadap keluarga perempuan. Urutan nomor dua itu membawa mostomos pengantin perempuan yang isinya seperangkat pakaian dan alat-alat shalat lainnya serta beragam alat mandi dan sebagainya.

Begitu pula yang barisan ketiga adalah yang membawa bantal dan guling yang diikat kerudung yang biasa ditugaskan pada sepupu pengantin laki- laki untuk membawanya. Guling yang mempunyai simbol agar hati kedua pengantin tetap terikat sepanjang masa sampai keduanya sama-sama berbaring di atas bantal keabadian dengan membawa cinta di dada. Begitu hingga barisan keberapa yang setiap bawaan itu punya maksud dan harapan masing masing mengenai keselamatan pengantin.

Akad pun berlangsung di halaman, tempat kiai dan saksi yang lain menyimak dengan seksama ucapan Lukman yang begitu fashih dan lantang mengikrarkan akadnya terhadapku. Sementara rombongan perempuan masih makan dengan bu nyaiku yang malam ini juga hadir sebagai kasaksian keindahan dan menemui bu nyai dari pondok Lukman dulu. Seusai itu, ibu segera memanggilku untuk segera keluar dari kamar dan menemui orang tua Lukman dan seluruh bu nyai yang juga mendoakan banyak kebaikan.

Dengan gaun putih yang melingkari tubuhku dan kerudung yang berlipat ganda di kepala, aku segera bersimpuh perlahan di hadapan ibu Lukman untuk bersalaman penuh takdzim, kemudian pada bu nyai yang juga berjejer disitu serta segenap rombongan yang saat ini bersimpuh pula bersama mereka. Sementara di tempat lain dimana penghulu mulai memanjatkan doa-doa setelah Lukman diiringi ucapan sah oleh seluruh yang duduk disitu.

Aku kembali masuk ke kamar sebelum Lukman menyusulku dari belakang. Tak banyak yang ku kerjakan disini, setelah ku tutup kembali pintu kamarku selain diam dalam keraguan dan kegugupanku di sisi ranjang sesekali ku arahkan pandanganku ke sela-sela jendela yang di antaranya seperti terlukis kekhawatiran hatiku disana mengenai hidupku yang berbeda dari sebelumnya.

Tiba-tiba suara yang sangat asing bagiku mengucap salam di depan pintu begitu merdu menggetarkan jiwaku seraya deret pintu yang melengking saat tangannya meraih gagang pintu dan membukanya perlahan. Sebelum kuraih tangannya untuk bersalaman, dia sejenak berdiam di dekat pintu yang baru saja ditutupnya seolah mengumpulkan keberanian untuk mendekatiku lalu perlahan melangkah ke arahku. Aku bergegas menyalaminya sedang tangan kirinya meraih keningku dan dipeganginya seraya merapal doa-doa dengan di iringi tiupan kecil setelah selesai membacakannya begitu dekat ke wajahku sampai tak ku dengar selain nafasnya yang saling berpacu dengan detak jantungku, tak kurasa selain aroma nafasnya membelai mesra mawar-mawar di dadaku yang perlahan kelopaknya rontok mencipta aroma pekat di hatiku.

Tak lama dari itu, aku beranjak ke ranjang yang di atasnya terdapat nasi dan beberapa lauk yang sedari tadi di persiapkan, disusul dengan Lukman yang juga siap makan. Kemudian aku mengambil sedikit nasi dan sedikit lauk di hadapanku begitu juga dengan Lukman, lalu ia menyusulinya dengan memimpin doa sebelum makan. Sebelum di mulai, aku sedikit mendongak menatapnya, ia tersenyum saat aku mulai menyuapinya perlahan, ia juga menyuapiku begitu pelan seperti tak merelakan satu butirpun terjatuh yang itu akan membuat kami tak utuh.

Rupanya ia pun sudah tahu pada tatanan tersebut dimana setiap pengantin baru harus melaksanakan suap menyuap antara suami istri setelah keduanya di kamar, seusai akad yang menurut sesepuh di kampungku dan kampungnya di Bluto, hal itu bermakna adanya keteguhan dan saling bersatu dalam genggaman yang sama dalam cahaya yang bertapa di dalamnya serta menguatkan cinta yang saling merasakan ketika sedih, saling mengisi ketika terkosongi dan menerangi ketika dalam gemerlap.

Bibirku masih terasa kelu untuk memulai percakapan dengannya sedari tadi. Selama Lukman diam pula dalam kebingungan sebab sepertinya ia tak ada topik dalam memulai sapanya terhadapku. Sejauh kebungkamanku yang berlari dalam angan tiba-tiba terhenti saat tangan Lukman meraba tanganku dan menatapku ketika aku juga mendongak kearahnya.                                                                                                                                                                        

”Apa yang ada di pikiranmu le’? apa yang membuatmu bungkam sedari aku berada disini? apakah jawabanmu sebulan lalu hanya terpaksa?” tanyanya sambil memegangiku semakin erat. Sementara bibirku semakin kelu untuk sekedar menjawab tidak  padanya sebab tangis mengguncang dadaku dan sebagian meluap ke dasar mataku sampai tak dapat kubendung ia dalam keharuanku yang membiru. Hingga akhirnya suaraku mulai pecah setelah beberapa menit berlalu dalam diam.

 ”Sama sekali tidak kak, aku hanya begitu terharu dengan dirimu yang begitu jauh pada sangkaku sebelumnya” jawabku legah setelah dentuman-dentuman dalam dada menghancurkan tepi kekhawatiran dalam anganku.

”Memangnya sampean berprasangka bagaimana terhadapku?” tanyanya seraya mendekatkan wajahnya tepat di depan wajahku.

”Maafkan aku kak, sungguh aku telah berprasangka bodoh terhadapmu, jauh  sebelum kyai memintamu untuk menelponku, setahuku dari orang-orang yang tahu tentang remaja yang jauh merantau, itu tidak berjiwa tulus sebab disana terbiasa bergaul dengan banyak lain jenis tanpa ada yang menegurnya, seperti yang kamu ketahui dari masyarakat disini, jadi ia tidak merasa puas saat bersanding dengan satu orang saja dan aku takut itu akan terjadi padamu pula kak’’ jawabku sedikit terbata dalam tangis yang masih berdendang dijiwaku.

”Tetapi kyai meneguhkan atas nama iman dalam hatiku yang kupasrahkan untuk menerimamu semata-mata aku mencintai Allah dalam jiwa dan batinmu meski secara terang ku katakan aku belum sepenuhnya siap untuk pernikahan ini dan aku takut aku tidak bisa memberimu kebahagiaan sesuai yang kamu harapkan. Aku tak lebih dari perempuan kampung yang seperti ini adanya bahkan aku tak banyak belajar di jenjang pendidikan seperti kamu lantaran ketidak mampuan ibuku untuk membiayaiku, sementara engkau tak hanya lebih dari itu bahkan di kampungku tak pernah ku temui sosok sepertimu sebelumnya dan aku…”.

”Cukup le’. Engkau tak sekedar istimewa bagiku meskipun keadaanmu demikian karena aku tak mengharap apapun kecuali ridla yang Tuhan sempurnakan dalam dirimu. Aku tak pernah mempertimbangkan dirimu dengan apapun yang ada pada diriku sebab cintaNya lebih mulia dari apa yang kita punya, aku lebih mengagungkan itu dari segala bentuk kelebihanku dan mensyukurinya dari segala bentuk kekuranganmu karena sebab kekuranganmu itu, berarti aku siap belajar sempurna” jelasnya seraya merangkulku ke dadanya.

”Belajar sempurna itu tak hanya sempurna pada diri dan Tuhannya, sempurna yang sejati adalah ketika ia mampu mengadili hidup ini dengan benar meski terkadang kita harus menelan pekatnya kepedihan, harus mencincang jiwa kita dengan tangan sendiri atas nama kemuliaan yang orang orang harapkan dari kita tanpa dosa, harus tenggelam dalam arus air mata hanya sebatas menebus senyuman pada yang maha kebahagiaan. Begitu halnya denganku sebagai suami bagimu, suami yang harus mempertanggung jawabkan kepemimpinannya dalam rumah tangga meski itu sangat tidak mudah sebagai kewajibanku terhadapmu dari berbagai segi”, lalu ia sejenak terdiam setelah mengucapkan beberapa hal, kemudian,

 ”Aku mungkin hanya bisa menafkahimu semampuku, sekuat kasih sayangku yang lahir dari hati berupa cinta tetapi belum tentu aku bisa menafkahi kebahagiaan yang kamu ingin sebab dalam rumah tangga itu ada kalanya bosan, kesal, dan jenuh itu akan datang bersamaan, ada kalanya bertandang bergantian di atas layar kita saat kita mendayung di permukaan arus kehidupan, jadi sebelum itu kita jalani mari perbaiki iman kita sebagai perahu yang akan kita naiki, siapkan layar berupa sabar agar ketika angin kesalahan mengombang ambingkan hati kita, jiwa kita tak tenggelam ke dasarnya yang terdalam walaupun raga kita sebenarnya telah menemui keabadian di rahim zaman” ucapnya kembali semakin menyelami keharuanku. 

”Ada kalanya aku harus berlabuh dalam keadaan salah yang sekarat maka saat seperti itupun nafasku bergantung pada kekekaranmu yang akan menuntunku ke tepi kebenaran dan disitu engkau akan memberiku seteguk ketentraman yang kau ambil dari sana” pintaku pula.

Sejenak kami terdiam dalam bungkam, tiba-tiba suara bibi dari luar pintu memanggilku dan menyuruhku untuk keluar sebentar untuk sekedar melaksanakan ritual capcabhan pemberkahan[9] di pelaminan. Ya,  ritual itu di laksanakan di singgasana pelaminan setelah keduanya nyongkem[10] pada kedua orang tua masing-masing secara bergantian.

Seperti yang telah kulakukan sama Lukman terhadap mereka, baru kemudian ayah Lukman memercikkan air bunga mawar yang telah di campurkan beddha’ room[11] ke wajahku yang telah di doakan oleh sesepuh. Setelah upacara pemberkahan usai, beberapa orang yang telah ditugaskan sebelumnya, membawa beras kuning dan telur ke pelaminan untuk ditaburkan ke arahku dan butir telur itu disuruhnya kuinjak yang mereka tujukan agar tuhan merahmati hidup kami semudah beras kuning itu melayang ke tanah dan rizki kami tumbuh sebanyak  doa yang mengeram di dalamnya.

Sedang telur yang ku injak itu melukiskan banyak rahasia sebagaimana jalan yang di umpamakan terhadapnya berupa kemudahan ketika melahirkan kelak dengan dimudahkannya air tuban yang pecah sebagaimana cangkang telur yang retak tanpa beban. Perlahan aku menuruni tangga ketiga sambil dipegangi Lukman dan beberapa orang termasuk ibu dan mertuaku mulai menaburi beras kuning itu.

Sementara di tangga ketiga, aku mulai menginjakkan kaki di atas bulatan telur yang seperti bertasbih sepanjang detak nadi. “chassh”. Ah… begitu ringan ia pecah persis seperti yang nenek katakan dua hari yang lalu. Dengan kaki sedikit basah, ibu Lukman segera menggiringku kembali ke kamar bersama Lukman tanpa menyuruhku mencuci kaki terlebih dahulu.

Jam sudah bertandang di angka delapan malam, aku segera berganti gaun  yang kukenakan pada pakaianku dan segera bersiap untuk berangkat ke rumah Lukman.

”Le boleh nanya satu tempat?” tanyanya sambil melepas jasnya. Aku hanya menoleh kearahnya seraya menganggukkan kepala tanpa menjawab pertanyaannya.

”Kamar mandinya dimana? Sepertinya aku harus mandi dulu sebelum berangkat sebab tubuhku sangat gerah” jelasnya lagi.

”Oh, kalau sampean mau di kamar mandi dalam, setelah keluar dari kamar ini sampean lurus saja lewat jalan yang menuju ke dapur, kamar mandinya disebelahnya tapi sepertinya di dapur sangat ramai dan kemungkinan jalannya agak sedikit padat, kalau di luar, tak terlalu ramai cuma jalannya sedikit ribet dan sedikit berbelok” jelasku pada Lukman, suamiku.

”Bagaimana kalau keluar saja.. sebab aku masih merasa sungkan sama ibu-ibu di dapur tapi di antar sama kamu ya biar besok pagi juga tidak merepotkanmu untuk menjelaskan kembali jalannya” pintanya sedikit manja di hadapanku dengan wajah memohon. Aku mengangguk pelan menuruti pintanya kemudian kubuka pintu untuk keluar terlebih dahulu dan menunggunya diluar ”satu hal lagi le’, handuknya dimana?”

 ”Digantung dibelakang pintu” jawabku sambil melihat ke arahnya yang sepertinya sedikit keluar mengikuti langkahku. Terdengar beberapa ledekan padaku dari beberapa teman yang masih nongkrong disitu ketika melihatku beriringan dengannya ke kamar mandi.

 Setelah semua siap, aku dan Lukman segera keluar menuju mobil yang telah dipersiapkan sedari tadi brsama rombongan orang-orang yang ditugaskan membawa mostomos serta jajan main yang telah direstui dengan doa berupa benih-benih cinta yang perlahan berlarut penuh makna

Angin malam terus bernyanyi dengan angan yang berdendang sepanjang jalan, lumayan melelahkan memang perjalanan dari rumahku di Batang-Batang yang melewati beberapa desa, mulai dari Gapura, desa yang mayoritas masyarakatnya dikenal sangat kreatif dalam membuat genting dan beberapa pembuat krupuk. Lalu desa Braji, kediaman Bupati sekaligus ulamak yang gigih. Melesat lurus menuju Bangkal, ada pasar yang setiap hari selasa sabtu orang-orang menjual dan membeli berbagai jenis sapi, mulai dari sapi kerapan sampai sapi untuk disembelih dalam acara hajatan atau acara orang mati.

Sampai akhirnya tiba di kota Sumenep bahkan masih melintasi perbatasan kota, Saronggi lalu Bluto. Hingga tak terasa tiba dirumah Lukman yang sepanjang jalannya penuh dengan pohon-pohon kelor menjulang, melewati pelabuhan Cangkarman dan masjid jami’ Baiturrahman.

Sambutan keluarga yang begitu sempurna serta seluruh orang-orang yang hadir disitu dan tak hanya itu, alunan hadrah dan letupan-letupan kecil kembang api juga bernyanyi begitu merdu seperti debar didadaku yang perlahan berdendang begitu tentram. Rombongan sudah dipersilahkan, acara pembacaan shalawat dan doa-doa pemberkahan segera berlangsung di halaman.

Sementara aku dan Lukman disuruh duduk di kursi pelaminan sekedar berphoto-photo dengan keluarga Lukman. Kemudian kami segera pamit setelah acara melle maen[12] digelar oleh pihak Lukman pada undangan yang hadir disitu termasuk orang-orang yang rombongan dari rumahku yang juga hadir dalam undangan tersebut.

 Malam semakin larut ke dalam senyum Tuhan dalam nafasku malam ini, senyum yang begitu tulus berdesir ke dadaku berupa ketentraman dan keteduhan doa, malam yang kusempurnakan dengan Lukman dalam genggamanNya, dalam ruang yang di dalamnya penuh debar-debar mawar yang saling menjadi getar paling bermakna serta terbukanya banyak pintu rahasia antara hatiku dan hatinya setelah detak jantungku menyatu dengan detaknya yang perlahan mengantar aroma mawar-mawar penuh cinta ke dadaku setelah kusandarkan kepalaku didadanya. Sesekali desahan nafasnya berhembus kearahku mengantar rindu yang tak pernah rapuh.

Yogyakarta, 2018

*Misnama Panabasen, Mahasiswi Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Cerpen-cerpennya Telah Terbit Diberbagai Media Online dan Cetak.


[1] Panganten anyar= pengantin baru 
[2]
Penangkal/ penghadang
[3]Aneka
kue yang dibuat besar besar yang di peruntukkan untuk keluarga pengantin
perempuan  
[4]Tempat
yang terbuat dari besi kuning yang berisi kapur, daun sirih, gambir dan buah
pinang yang setiap mereka punya arti masing masing yaitu: kapur bermakna agar
keduanya sempurna, daun sirih bertujuan agar keduanya di jauhkan dari sifat iri
dan penyakit hati
[5]Kue
yang di buat besar besar kemudian dibawa ke rumah si lelaki yang kemudian di
hargai sesuai permintaan dari pihak perempuan. Sedang kue kue tersebut di jual
pada para undangan yang hadir saat pihak perempuan sudah bubar
[6]Orang
yang dipercayai sebagai pengikat antara perempuan dan laki laki sebelum akad
nikah  
[7]Penerang
semacam lilin yang di buat dari potongan kelapa berbentuk wajik yang diletakkan
dengan beberapa seperangkat sesajen 
[8]
Penangan adalah seperangkat bahan cemilan orang tua di Madura yang dianggap
bisa menguatkan gigi bahkan sebagai simbol kekuatan dalam suatu hubungan.
[9]Tradisi
ritual orang madura yang dilaksanakan setiap putra/putrinya menikah yang hal
tersebut dilaksanakan di rumah si pengantin perempuan
[10]Sungkem
kedua mempelai pada orang tua masing masing secara bergantian
[11]Air
mawar yang di campur dengan bedak pemberian sesepuh sebagai alat yang akan di
percikkan ke wajah sepasang pengantin sebagai ritual pemberkahan
[12]Kue
dari pengantin perempuan yang di jual pada para undangan oleh keluarga
pengantin laki laki

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here