Apa yang Selamat dari Selamat Tinggal?

Apa yang Selamat dari Selamat Tinggal?
(Ilustrasi Foto: Gharba.com/doc.net)

Oleh: Eka Saragih
(Mahasiswa UPN “Veteran” Yogyakarta, Bercita-cita memiliki istri artis)

“Sialan! Itu adalah kali ketiga aku melihatnya meniduri wanita dengan mata kepala sendiri,” seru Minah melanjutkan kisahnya dengan emosi yang meluap karena efek alkohol.

“Bekas pakaian yang berserakan di lantai, seperti berpura-pura tidak melihatku. Bahkan, selimut kecil itu dengan cekatan menutupi tubuh wanita jalang di hadapanku. Aku curiga, rasanya pakaian dan selimut sudah disuap untuk menghalangi pandanganku” lanjut Minah bercerita dengan tatapannya yang jauh dan kosong.

“Aku pasti kau anggap gila kan? Kau tidak tahu saja, matanya tajam seperti pisau. Hatiku mati tertikam sorot matanya, teriris kecil-kecil seukuran dadu. Lalu ia mulai membakar dengan jiwanya yang selalu berapi-api, hingga akhirnya ditelan kelaminnya yang lapar. Bisa-bisanya ia buat hatiku seperti daging satai!” Emosi Minah semakin meledak-ledak.

Tak mau kalah, akhirnya Siti menimpali dengan kemarahannya “Kau juga yang salah! Sudah ku bilang, Waluyo itu maniak! Terlalu banyak tangannya meraba tubuh wanita. Mungkin karena tangannya buta, hingga harus terus meraba-raba”.

Tak terima dengan ucapan Siti, Minah langsung memutuskan teleponnya secara sepihak. Meninggalkan Siti berdua dengan dinding yang sedari tadi mencoba untuk mendengarkan percakapan mereka.

Keparat! Belum ada satu krat aku sudah mabuk berat. Satu botol lagi, hasrat ku terlalu kuat. Pikiranku terus melompat-lompat berusaha menembus sekat dan mendesak hatiku untuk berdebat. Sungguh keributan yang amat dahsyat, kata-kata berceceran, harapan berguguran.

“Kau harus berangkat meski berat, cukuplah dengan keberanian karena aku tetap mendoakan agar kelak kau selamat. Kau harus menyekat hasrat dan batas-batas nan terlewat! Jangan bodoh, kamu pasti kuat!” Seru otak kepada hati dalam pertengkarannya.

“Sungguh perpisahan memang begitu menawan, terlebih untukku yang tertawan dalam menjaga perasaan yang kian terlupakan. Kau benar, ibarat hujan yang petani nantikan dan musafir hindarkan, perpisahan pun demikian bukan? Sama-sama tak terelakkan” hati menjawab dengan tenang.

“Halo Siti? Aku ingin bercerita!” Tanpa direncanakan, Minah langsung menghubungi Siti lewat sambungan telepon di tengah malam.

“Siti, apakah cinta itu kejam? Cinta itu egois kan Sit? Jawab aku!

Bisa-bisanya ia merasukiku hingga aku tak sadarkan diri,” Tanya Minah kepada Siti di awal percakapan. “…” Siti hanya diam dan terus mendengarkan karena kaget.

“Apakah kau sedih tidak dicintai? Aku takut itu terjadi padaku! Aku tidak suka dengan kesendirian! Aku tidak mau menjadi jomblo!”

“Minah, perkataanmu menyakiti ku”

“Aku tidak bermaksud”

“Tak perlu kujawab, pernyataanmu sudah cukup mewakili atas jawabanku.”

“Tapi, aku benar kan Siti? Pilihanku itu yang terbaik kan? Mengucapkan kata selamat tinggal padanya, walaupun aku tidak pernah tahu apa yang selamat dari itu.” Lanjut Minah melayangkan pertanyaan laiknya pukulan petinju yang sangat cepat

“Minah, lagi-lagi pernyataanmu sudah mewakili jawabanku.”

“Begini Minah, cinta tidak kejam tidak juga egois. Ia bukan hal yang harus dihindari atau dikambing hitamkan. Jika kau takut tidak dicintai, kenapa kau tidak mencintai diri sendiri saja? Mungkin, kata selamat sebelum kata tinggal, adalah bentuk cinta pada diri sendiri karena sakitnya perpisahan.”

“Sadarlah Minah, cinta itu tidak bersifat. Hanya kata tanpa makna, kau sendiri yang buat ia bersifat dan bermakna. Hal itu muncul karena kreasimu atas asumsi, dan asumsi tersebut muncul karena kondisi.” lanjut Siti.

Emosi Minah mulai meluap dalam percakapan tersebut “Tapi kau tidak akan pernah tahu rasanya disakiti seperti itu Siti! Karena kau tidak pernah mencintai dan dicintai! Apakah bisa kau bayangkan hal yang belum pernah kau rasakan sebelumnya? Kamu tidak akan pernah tahu!”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here